Festival bedug ini diselenggarakan pada Minggu siang, 4 agustus 2013 di halaman Mapolres Salatiga. Acara yang didukung oleh Polres Salatiga ini memunculkan kelompok dari Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah sebagai juara pertama disusul kelompok dari Susukan sebagai juara II.
Kelompok dari Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah diperkuat oleh Sofyan sebagai penabuh bedug dan donnun, bass oleh hasan, gitar oleh gilang, organ oleh adi, jimbe oleh isma, fani, hanna, dan yudha. Selain itu kelompok ini dilengkapi dengan penari yang terdiri dari Dewi, Muna, Zulfa, Nurul dan Fanti. Keberadaan penari ini juga menjadi pembeda dengan kontestan lain dan turut menambah skor. Beberapa warga belajar komunitas qaryah thayyibah yang lain nampak di sana sebagai dokumentator, dan pemberi supporter.
"Kami mempersiapkan acara ini sejak seminggu sebelum tampil dan rupanya memberikan hasil yang cukup memuaskan" kata sofyan, salah satu personel yang memegang bedug. Latihan ini tidak memakan waktu lama karena kelompok ini sudah ada sejak awal tahun 2013. Selain itu kelompok ini sudah beberapa kali tampil dalam bentuk pentas yang kurang lebih mirip walaupun dalam pentas-pentas sebelumnya tidak ada bedug di sana, tetapi menggunakan peralatan musik perkusi dan elektrik. Kelompok ini tidak mengalami kesulitan menggunakan bedug karena sudah terbiasa memainkan alat musik perkusi. Sehingga ketika panitia menetapkan syarat bahwa kelompok peserta wajib memainkan bedug sebagai syarat wajib, mereka tidak mengalami kesulitan.
Lebih lanjut Sofyan menjelaskan bahwa sebelum mengikuti festival ini kelompok perkusi komunitas belajar qaryah thayyibah sudah pernah tampil di UKSW, di 3 desa di daerah grobogan, dan juga tampil dalam festifal tlatah bocah yang diselenggarakan di Muntilan, Magelang. Hal ini menjadikan kelompok ini cukup punya pengalaman dan jam terbang sehingga persiapan yang dibutuhkan untuk tampil dalam festival ini tidak membutuhkan waktu lama.
Kelompok dari Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah diperkuat oleh Sofyan sebagai penabuh bedug dan donnun, bass oleh hasan, gitar oleh gilang, organ oleh adi, jimbe oleh isma, fani, hanna, dan yudha. Selain itu kelompok ini dilengkapi dengan penari yang terdiri dari Dewi, Muna, Zulfa, Nurul dan Fanti. Keberadaan penari ini juga menjadi pembeda dengan kontestan lain dan turut menambah skor. Beberapa warga belajar komunitas qaryah thayyibah yang lain nampak di sana sebagai dokumentator, dan pemberi supporter.
"Kami mempersiapkan acara ini sejak seminggu sebelum tampil dan rupanya memberikan hasil yang cukup memuaskan" kata sofyan, salah satu personel yang memegang bedug. Latihan ini tidak memakan waktu lama karena kelompok ini sudah ada sejak awal tahun 2013. Selain itu kelompok ini sudah beberapa kali tampil dalam bentuk pentas yang kurang lebih mirip walaupun dalam pentas-pentas sebelumnya tidak ada bedug di sana, tetapi menggunakan peralatan musik perkusi dan elektrik. Kelompok ini tidak mengalami kesulitan menggunakan bedug karena sudah terbiasa memainkan alat musik perkusi. Sehingga ketika panitia menetapkan syarat bahwa kelompok peserta wajib memainkan bedug sebagai syarat wajib, mereka tidak mengalami kesulitan.
Lebih lanjut Sofyan menjelaskan bahwa sebelum mengikuti festival ini kelompok perkusi komunitas belajar qaryah thayyibah sudah pernah tampil di UKSW, di 3 desa di daerah grobogan, dan juga tampil dalam festifal tlatah bocah yang diselenggarakan di Muntilan, Magelang. Hal ini menjadikan kelompok ini cukup punya pengalaman dan jam terbang sehingga persiapan yang dibutuhkan untuk tampil dalam festival ini tidak membutuhkan waktu lama.
0 komentar :
Posting Komentar