Pilkada dan Berkah Middle Class

Oleh: Arif Burhan*

Fenomena politik kontemporer ditandai pelemahan mesin partai politik. Kemenangan seorang kandidat tidak berbanding lurus dengan banyaknya koalisi parpol. Parpol di dalam kontestasi sekelas Pemilukada, hanya dibutuhkan kehadirannya sebatas mengeluarkan surat rekom yang dibutuhkan dalam pendaftaran. Sementara pasca diumumkannya kelulusan administrasi, banyak dari calon yang lebih cenderung mempercayakan tim relawan bentukan sendiri atau tim dari konsultan, sebagai tim pemenangan.

Sejumlah alasan yang menyebabkan lemahnya mesin partai politik, khususnya dalam pemilukada disebabkan beberapa hal., Pertama, Parpol membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk menggerakkan roda partai sampai aras TPS. Kondisi yang berbeda dijumpai pada tim relawan yang meskipun belum terlembaga namun justru langsung bersentuhan dengan sumber suara masyarakat di bawah.

Alasan kedua pemilih menentukan pilihannya atas dasar figur, dan tokoh. Pemilih tidak terlalu penting melihat darimana parpol pengusungnya berasal. Popularits dan elektabilitas calon lebih dominan dipengaruhi dari kebermasyarakatan calon daripada faktor, kekayaan, pangkat, dan sebagainya.

Adalah mereka yang termasuk kategori middle class yang banyak mengeruk keuntungan dari situasi melemahnya partai politik tersebut. Hal ini bisa terjadi karena, sedikit banyak mereka yang berasal dari kelas menengah memiliki sumber daya politik lebih besar dari kelas lain. Lapisan sosial yang terdiri dari profesi wartawan, agamawan, aktivis, pegawai negeri selama ini dipandang cukup memiliki pengaru di tengah-tengah masyarakat. Partai politik yang megaalami penurunan tingkat kepercayaan dralih mempercayakan kepercayaan kepada tim lain.

Pemilukada membutuhkan calon-calon yang memiliki kantong-kantong suara. Lepas dari bagaimana ikatan itu diupayakan, diharapkan dengan uang yang disediajkan calon nantinya suara yang terekrut akan signifikan.

Konstelasi politik yang berlangsung sepintas cukup kompetitif, namun esensi demokrasi dengan nilai kebebasan memilih masihlah cukup jauh dari ideal. Pilkada hanya menjadi ajang panen broker politik. Perjalanan demokrasi merupakan kesempatan mengeruk untung buat para pesolek.

Citra pilkada pada hari-hari ini mengalami bayak sorotan dalam masyarakat. Tingginya swing voters, Golput serta maraknya money politics tentu saja menjadi sejumlah indikator kegagalan pembangunan sistem politik pada aras elektoral. Ajang kontestasi yang seharusnya menjadi media transisi politik secara damai, akhirnya tak punya banyak arti dalam memproduksi pemimpin terbaik, efeknya Pilkada tak ubahnya seremonial yang tak seru, namun harus dilakukan demi adat. (http://politik.lsdpqt.org/2013/03/pilkada-dan-berkah-middle-class.html)

Arif Burhan, Koordinator devisi politik LSDP-QT

SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar