"Waduh panen cabe di wonosobo udah selesay harga cabe malah melambung tinggi,?" Demikian status yang muncul di dinding facebook forum LSD dari salah satu anggota LSD Pangudi Luhur, Kerteg, Wonosobo, beberapa waktu lalu. Pertanyaan itu diajukan karena setiap kali petani panen lombok harga jatuh, tetapi giliran petani sudah tidak lagi panen lombok harga melambung tinggi. Bahkan petani yang kemarin menjual dengan harga murah kini ketika butuh lombok harus merogoh kantong demikian dalam.
Lebih lanjut kader itu membalas komentar, "gmna solosinya ni biar petani di daerahku bisa merasakan hasilnya,,?" Pertanyaan itu kemudian diikuti dengan kenyataan yang dialami petani cabe di Wonosobo, khususnya di daerah sekitarnya,.. "Iya tpi biasanya thun2 pas daerahku panen harganya, tpi udah dua thun ini sudah diperkirakan kpn harganya tinggi, apa ada permainan para pengepul cabe ya?" Demikianlah cuplikan dari keluhan pemilik akun Zul Ihkrom ini di wall facebook forum LSD.
Memang cabe adalah komoditas pertanian yang cukup unik, orang butuhnya sedikit tetapi tidak dapat ditinggalkan. Tidak ada orang yang menjadikan cabe sebagai makanan ringan pendamping minum kopi di sore hari, tidak ada pula orang yang membuat sirup cabe atau manisan cabe. Tetapi orang akan dibuat kalangkabut ketika masakan mereka tidak ada rasa pedasnya sama sekali. keluarga bisa berantakan kalau ibu rumah tangga lupa tidak memasukkan cabe dalam daftar bumbu mereka.
Dalam data yang disampaikan oleh seorang penulis opini di media nasional disebutkan bahwa harga cabe merah biasa di bulan Juli sebesar Rp. 41.541 rupiah, naik sebanyak 52,37 % dari harga di bulan yang sama tahun lalu yaitu Rp. 27.245. Kenaikan serupa juga dialami oleh harga cabe merah kriting harga bulan Juli sebesar 42.227 yang mengalami kenaikan sebesar 47,36% dibandingkan dengan harga di bulan yang sama tahun lalu yaitu Rp.28.689. Kenaikan ini sangat tinggi dan jika benar yang dibeli masyarakat adalah cabe hasil petani Indonesia, tentu petani akan menikmati keuntungan yang cukup tinggi. Tetapi benarkah demikian?
Menurut data yang dirilis Kementrian Pertanian dari Januari hingga Mei 2013 pemerintah selalu melakukan import cabe. Import cabe itu berasal dari beberapa negara. Tetapi Thailand, India dan China merupakan negara yang sejak januari hingga mei secara berturut-turut menjadi negara adal import cabe dengan jumlah yang cukup besar. Beberapa negara lain seperti juga pernah menjadi negara asal import seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Amerika Serikat dan Jerman. Tetapi jumlah dan intensitas import dari negara-negara ini tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan negara Thailand, China dan India.
Komoditas Cabe yang diimport dari ketiga negara itu dari Januari hingga Mei adalah dari Thailand sebanyak 707.964 Kg, dari China sebanyak 1.997.077 Kg, dan dari India sebanyak 4.925.960 Kg. Secara keseluruhan jumlah import cabe dari ketiga negara tersebut dari Januari hingga Mei adalah 7.631.001 Kg. andaikan seorang petani cabe dalam sekali panen menghasilkan 200 Kg cabe maka dibutuhkan petani sebanyak 38.155 petani. Dengan kata lain ketika seluruh cabe yang diimpot itu dipenuhi oleh petani Indonesia maka keuntungannya sebenarnya akan terbagi kepada 38.155 petani. Lantas, pada kemana para petani cabe Indonesia sehingga harus import cabe sebanyak itu?/jab
Home
Berita
Warta Tani
Harga cabe melangit, petani: "gmna solosinya ni biar petani di daerahku bisa merasakan hasilnya,,?"
-
Blogger Comment
-
Facebook Comment
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar :
Posting Komentar