CAPING – SUSUKAN – Di akhir pekan di desa-desa di sekitar Kabupaten Semarang dan Kabupaten Boyolali dapat kita temui hiburan rakyat yang menarik. Seni Reog, atau Wayang Kulit merupakan beberapa dari seni rakyat yang dapat kita saksikan di setiap akhir pekan. Acara ini, biasanya diselenggarakan baik oleh perorangan (warga) maupun kelompok (baik itu pemerintah desa, maupun karang taruna). Acara ini biasanya diselenggarakan pada malam hari yakni dimulai pukul 19.00 dan selesai antara 24.00. Untuk lokasi acara hajatan warga, biasanya lokasi acara bertempat di halaman rumah si empunya hajat, sementara itu jika penghelat acara adalah desa atau suatu kelompok, lokasi yang lebih luas seperti di Lapangan atau Balai Desa setempat seringkali menjadi lokasi acara.
| Pentas Reog di desa Urut Sewu, Kec. Ampel, Kab. Boyolali |
Seni rakyat ini biasanya diadakan untuk keperluan memperingati hajatan (manten, sunatan, tasyakuran) atau pada hari-hari besar keagamaan seperti, Waisak, hari raya Idul Fitri, pasca panen atau tahun baru Jawa (Suro).
Dalam pentas seni rakyat rakyat ini biasanya animo masyarakat untuk menonton sangat besar. Untuk acara desa, biasanya penonton mencapai ribuan orang, berbeda dengan hajatan warga yang biasanya dilihat ratusan penonton saja. Para penonton ini biasanya datang secara berbondong-bondong bersama teman ataupun keluarga baik dengan berjalan kaki atau menaiki sepeda motor. Keberagaman penononton pada tontonan ini nampak jelas karena lintas golongan, laki-perempuan dan umur. Mereka yang menonton, biasanya selain berasal dari desa sendiri juga desa-desa di sekitar tempat tontonan.
Yang menjadi magnet lain selain hiburan berupa pentas seni reog ataupun wayang, pada acara tersebut juga ada hiburan permainan Othok (judi dadu rakyat) yang biasanya memiliki penggemar tersendiri dan bertempat agak jauh dari acara. Atau kalau tidak suka berjudi, penonton dapat membeli jajanan baik makanan, mainan anak-anak, bahkan pakaian yang banyak dijajakan oleh para penjual di sepanjang pinggir jalan menuju lokasi acara.
Entah sejak kapan seni rakyat ini dimulai, namun keberadaannya sampai kini tetap diminati oleh masyarakat. Seiring perkembangan zaman, dimana keberadaan seni rakyat terancam dari gempuran hiburan dari kota seperti pentas musik dangdhut, pantaslah ke depan kita cemas dengan kelangsungan pentas seni rakyat ini untuk bertahan. Meskipun upaya adaptasi seni rakyat tradisional ini sudah dilakukan oleh para seniman, semisal dengan memasukkan unsur dangdhut di tengah-tengah episode wayang kulit (goro-goro) yang biasa disebut limbuk’an (nyanyian), namun kerapkali justru nilai estetis dari pentas ini menjadi berkurang. Sebab, kerapkali justru sewaktu adanya nyanyian berupa limbuk’an, konflik berupa kerusuhan antar penonton (kisruh) sering tak terhindarkan.
Seni rakyat berupa pentas reog ataupun wayang kulit di desa-desa bagaimanapun tradisionalnya menyimpan kearifan lokal yang kaya akan nilai-nilai budaya sekaligus menjadi media internalisasi nilai untuk menciptakan SDM yang bercitarasa seni dan berbudaya tinggi. Menjadi tantangan bersama bagi kita untuk mempertahankan dan mengolah agar potensi seni rakyat yang ada ini, agar mampu mendorong produktifitas dan menunjang perkembangan desa ke arah yang lebih baik (AB).
0 komentar :
Posting Komentar