oleh: Rasikh F
“ kau bodoh. Seharusnya kau tetap disitu sedikit lebih lama. Maka akan muncul apa yang aku harapkan”
Lantas semua telah terjadi. Tempat itu sudah kutinggalkan. Geram. Tadi aku merasa dibohongi anak kecil, sekarang aku merasa dibohongi keyakinanku sendiri. Ingin ku tendang kepala si kecil ini, tapi dia tak salah. Ingin kuhancurkan keyakinanku sendiri yang bodoh ini, tapi entah bagaimana caranya. Seperti apa kubilang, keyakinan itu seperti sampah.
“hei josh! Mungkin ini sudah akhir malammu, pulang sana. Jangan lagi” si bartender membentakkan lamunanku.
“oke brow, tapi satu pertanyaan buatmu” aku terasa agak pusing, berarti memang agak mabuk sekarang. “kepada siapa keyakinanmu kau serahkan?”
“haha, sejak awal kau lahir di negeri ini, keyakinanmu sudah terbeli oleh hukum. Ketuhanan yang maha esa! Pancasila sila pertama! Haha!”
“wooww…!!, hebat brow” sambil berjalan keluar saya berkata “tapi kau tahu ada yang lebih besar dari pada burung garuda itu untuk kau tempatkan keyakinanmu. Burungmu sendiri. Haha! Bye brow!”
Mabukku kali ini sangat berkualitas. Membuat pikiranku memikirkan keyakinan, padahal biasanya melayang dan jatuh pada paha wanita, karier yang tolol, lelucon kotor, dan ejekan-ejekan buat si roni teman culunku. Ke-ya-ki-nan. Apa aku sudah memilikinya selama hidupku ini? Aku hidup, dibesarkan oleh orang tua. Masuk TK. SD, SMP, SMA, Kuliah dan sekarang kerja. Dimana aku selipkan keyakinan selama itu semua berlangsung? Pasti ada. Sebentar, akan kucari.
Nah! Itu dia, aku ingat. Waktu aku pertama kali masuk SD. Ibuku memegangi tanganku dan mengantarkanku ke bangku kosong yang kududuki. Aku sangat takut dan pemalu waktu itu. Kulihat banyak sekali wajah asing anak-anak seusiaku. Ada yang terlihat sudah nakal di wajahnya. Dan ada banyak sekali ibu-ibu yang mendampingi anaknya disampingnya.
‘nak, kau harus berani. Lebih berani dari yang lain. Ibu tunggu diluar ya. Nggak di sini’
‘aaahh… tapi bu. Di dalem aja. Disini.’ aku merengek dan menahan rok ibuku.
‘ibu tunggu diluar ya. Jangan nangis. ’
Akupun berusaha menerima dan mewadahi semua dunia baru yang asing yang baru pertama kali kutemui. Aku hanyalah anak kecil waktu itu. Dan aku sudah harus menerima suasana yang sangat asing, banyak wajah orang asing, dan duduk diantara banyak anak-anak disini rasanya seperti dunia yang ditertibkan yang baru kutemui. Aku tahan semua itu sendirian. Setelah bel, karena pertemuan pertama kelas, pulang cepat. Aku cepat-cepat lari keluar mencari ibu. Para ibu-ibu berkumpul di depan ruang kantor yang ada kursinya. Aku lari ke depan kerumunan itu, dan berteriak
‘ibu!’
Para ibupun menengok, melihatku selama beberapa detik. Dari semua wajah itu,ternyata ibuku tidak ada. Mataku mulai berkaca.
‘nak, nama ibumu siapa’
Aku tak menjawabnya. Dan ibu menghilang dari hari itu, sampai sekarang.
Lalu waktu SMP, disaat aku menyadari kemanjaanku sehingga aku tak bisa naik sepeda. Setiap hari diantarkan sopir dengan mobil kemana-mana. Dan teman-temanku biasa berkumpul di taman untuk bersepeda. Aku sudah mulai belajar bersepeda dengan supirku. Sepedanyapun sepeda pinjaman dari supirku. Beberapa kali terjatuh, Sudah dua hari aku belajar, dan mulai bisa. Hanya disaat tikungan dan pada kayuhan awal-awal saja setang masih bergoyang-goyang tak stabil. Tapi ini mudah. Sekali lagi aku belajar, aku yakin aku bisa.
Hari minggu, hari libur papa. Aku bilang dengannya bahwa aku yakin hari ini aku bisa bersepeda dengan lancar. Aku ceritakan kepada papa bahwa aku telah belajar bersepeda dengan pak yanto, supirku. Aku pinjam sepedanya selama ini, dan taruhan pada papa kalau memang lancar bersepedaku hari ini, aku harus dibelikan sepedaku sendiri. Oke, kita deal, dan berangkat ke taman. Disana supirku sudah membawa sepedanya. Kali ini Papa yang menggiring aku belajar bersepeda. Beberapa kali papa berlari mendorongku, dengan teriak-teriakan sok memotivasi. Tiba-tiba ia terjatuh. Wajahnya memerah tak karuan. Nafasnya seakan akan terhenti. Pak yanto membopong papa ke dalam mobil, membawanya kerumah sakit. Tak ada yang benar-benar aku ingat. Tetapi ada satu hal yang benar-benar kuingat, disaat pak dokter membisiku setelah berbicara dengan pak yanto, papa telah tiada karena ada penyakit jantung dideritanya. Sampai hari ini aku tidak bisa bersepeda.
Keyakinan itu benar-benar ada jika sesuatu yang kau yakini itu tak terjadi, tak sesuai dengan keyakinanmu. Maka realita dan keyakinan itu akan saling berpisah. Keyakinan berdiri sendiri, dan realita berdiri sendiri. Di saat itulah keyakinan benar-benar ada untukmu. Tetapi jika keyakinan itu berujung pada kejadian atau hasil yang sesuai kau harapkan, maka keyakinan itu melebur dengan realita. Keyakinan itu lama kian lama akan buyar dan sepenuhnya jadi realita. Yang ada hanyalah kenyataan, dan keyakinan termakan didalamnya.
Sampailah aku dirumah, rumah warisan papa. Hidup sendiri, bekerja untuk diri sendiri. Lebih dari sepuluh tahun aku seperti ini. Entah apa jadinya aku tanpa semua harta warisan papa. Mungkin aku sudah dipinggir jalan.
Pagi-pagi, entah mungkin jam 3 atau jam 2, pintu rumahku diketuk seseorang. Pikirku, entah siapa dan mau apa mengetuk pagi-pagi begini. Ternyata pak yanto datang. Beliau sudah tak jadi lagi supirku semenjak papa meninggal. Raut wajahnya pucat pasi, mungkin karena suhu dini pagi yang terlalu dingin. Raut wajahnya tua, sudah mulai keriput.
‘pak, kenapa pagi-pagi begini datang kesini? Masuk pak, diluar dingin sekali. Ayo’
Pak yanto tak menggeserkan kaki sedikitpun. Mulai kuduga, pucat pasinya bukan karena suhu dini pagi yang terlalu dingin. Tapi sesuatu yang ia bawa, yang mau ia ucapkan padaku.
‘ibumu meninggal nak. Ibu selama ini jadi pengasuh panti asuhan dekat rumah saya. Dan tadi baru tadi malam ibumu meninggal nak…’
Dan, untuk hari ini, akan kuyakinkan pada diri sendiri, ‘aku akan hidup hari ini, aku akan hidup hari ini’
as taken from Rasih F
0 komentar :
Posting Komentar