Aku dan kamu, kapan akan menjadi kita? Never.


Oleh: Atiqah NF

Hey, Halo. Kamu yang tadi malam in the firts day of Februari  ngebales chat ku, tak pernah kuduga sebelumnya. Karena di Januari kau tak seperti biasanya, kau memberikan radar untukku menjauh. Aku bahagia, walau percakapan eletronik kita tadi malam hanya sebentar dan tak penting. Tapi aku yang memulai? Dan kau mau?
Kau masih ingat? Kapan peristiwa itu terjadi? Peristiwa yang selalu mengingatkanku kepadamu. Benda bulat yang berhasil mengenai tepat di wajahku, membuat mataku merah, perih. Tapi ini peristiwa, aku suka. Kejadian itu, kau berkali meminta maaf kepadaku, berkali juga ku mengacuhkanmu. Bukan! Aku tak mengacuhkanmu, aku hanya sekedar berpura-pura. Aku berhasil melakukanya. Bisakah kau mengulangi saat itu? Saat kau minta maaf terhadapku karena suatu kesalahan yang kau buat? Kau meminta maaf berkali-kali. Kesalahan yang menyebabkan sakit fisik. Kali ini, kau buat hatiku sakit, bahkan berkali-kali. Tapi kenapa tak pernah satu kali-pun kau meminta maaf kepadaku. Layaknya saat itu? Saat kau berhasil mengenai wajahku dengan benda yang sering kita perebutkan; saat jam olahraga. Aku merindukan saat-saat itu bersamamu, aku sangat merindukanya. Kapan kita bisa melakukanya lagi?
Setelah saat itu, lebih sering kita ciptakan tawa dan canda bersama, semuanya masih sangat membekas di otakku. Jangankan melupakan, atau menghapusnya. Tahu caranya pun aku tidak.
Aku ingat saat kau duduk di depanku, kita berebut buku tulismu.
"Mana? Berikan padaku buku tulismu!"
"Asal kau mau memaafkanku"
Aku hanya bisa terdiam, aku berfikir. Apa yang harus aku lakukan. Lalu, kau pindah ke barisan lain. Kau menatapku, aku menatapmu. Sedikit lama, kita berpandangan, sampai akhirnya kita memesang muka aneh kita. Saling menjulurkan lidah. Dan berhasil membuat orang cemburu.
Aku masih ingat, saat orang mulai mengetahui ku menyukaimu.
Kau yang sedang mendapat giliran duduk di depanku, kita bercanda, selalu. Kau menunjuk-nunjuk namaku dalam daftar piket, aku memutar-mutarkan maksutmu, kau kukueh dengan maksutmu. Tanpa kita pedulikan ada orang yang meneriaki kita "modus....modus". Kita masih asik dengan candaan kita, masih saling memandang dan tersenyum manis.
Aku pun masih ingat, aku berniat latihan paski Selasa sore itu, tapi itu bukan niatku yang sebenarnya. Aku hanya berniat ingin lebih lama bersamamu, kau ekstra volly. Volly belum di mulai, kau masih menunggu di kantin, dengan teman kita. Aku menghampirimu yang sedang bersama salah satu teman kita. Lagi-lagi orang yang sama meneriaki kita hm bukan, aku. "Modus...modus" Tapi kita tak peduli, kita kembai hanyut dalam perbincangan random penuh canda dan tawa.
Dan aku masih ingat ribuan kisah yang pernah kita lewati bersama, aku dan kamu lewati bersama. Masih ingatkah kau?
Kau boleh tak ingat, tapi seharusnya kau tahu. Aku merindukan saat-saat itu; Bersamamu.

***
            Butiran hujan menemani malam sepiku, aku masih sibuk dengan kenangan-kenangan yang masih berserakan di fikiranku. Baru saja aku menuliskan kisah hidupku kala aku ada di dalam suatu hari yang sulit untuk di lupakan. Fikiranku melayang, mencoba menemukan jawaban yang selama ini aku cari. Mungkin memang benar, kalau aku dan dia itu takkan pernah bersatu. Sikap dinginya, aku sudah berusaha mengimbanginya tetap saja aku sulit untuk mencairkanya. Sempat terlintas di fikiranku dan justru menetap.
            Bisa saja kalau aku dan dia adalah sepasang garis sejajar yang mustahil untuk bersatu. Atau, aku dan dia sama. Aku adalah kutub selatan begitu juga dia. Makanya, kita tak pernah bisa bersatu karena saling tolak-menolak.
***
            Aku mencari ke selilingku. Mencari sosok yang mungkin akan aku temukan di tempat ini, parkiran. Parkiran memang salah satu saksi bisuku dan dia di masa yang lalu. Dia yang belum pernah menjadi milikku. Aku tak menemukan sosoknya, mungkin dia sudah berangkat terlebih dahulu ketimbang aku. Aku menyusuri jalanan di parkiran, melihat satu persatu kendaraan yang tertata rapi di parkiran. Aku tak menemukan kendaraanya terparkir disini. Semakin mendekati gerbang aku mencoba semakin pelan, mungkin saja aku akan menemukanya disini. Benar saja, dia memasuki gerbang dengan seorang wanita di jok belakang kendaraanya. Aku tatap mencoba stay strong, dia melirikku sekilas tapi aku enggan melihat ekspresi di wajahnya.
            Aku masih mencoba menahan sesuatu yang ingin menyeruak keluar dari kelopak mataku. Aku mendongak ke atas, ke arah langit. Langit akan menangis sebentar lagi. Di hari Kamis yang menyimpan banyak kenangan dengan hujan. Bersamanya. Hujan tolong jangan kali ini aku enggan mengingatnya, mengingatnya akan membuat lebih sakit. Pasti.
            Duduk terdiam di ke hiruk-pikukan memang suatu pilihan. Aku memilih duduk mematung di depan bangkuku. Dengan kertas kosong yang ada di depanku. Aku ingin kertas itu segera terisi, namun sulit. Aku melirik ke arah jendela. Mecoba menemukan sesuatu di gelapnya lorong depan kelasku. Aku melihatnya yang sedang berjalan, mungkin dia akan segera pulang. Dia melirik ke arahku. Mataku dan matanya bertemu, terkunci! Sampai beberapa detik kemudian ada susuatu yang menyadarkan. Dan tatapan itu pudar.
            Hujan makin angkuh, dia enggan berhenti. Bahkan, membawa pasukan makin banyak dan banyak. Aku berjalan gontai dengan tas yang berat di punggungku. Terseok-seok di antara sedikit luapan air yang menggenang di lantai dekat kantin. Aku menengok ke arah kantin, tatapanku menyapu seluruh penjuru kantin kemudian ku temukan dia dan sesosok teman yang sedang asik bermain benda mati yang seakan hidup di depan mereka. Kedatanganku dan temanku mungkin sedikit mengganggu perhatian mereka.
            Temanku menyebalkan, dia justru duduk di depan mereka. Karena terpaksa, aku juga melakukan hal yang sama. Aku memalingkan wajahku, mencoba menghitung rintik hujan yang turun ke lantai beralaskan rerumputan. Aku tak benar-benar mendapat jawaban dari apa yang aku hitung.
“Pinjam laptopmu” Kata temanya. Aku segera mengangguk seraya mengeluarkan laptopku dari dalam tas punggungku. Sayangnya, temanku tak ingin berlama-lama disini dia enggan menunggui hujan bersamaku. Dia segera pulang, aku menjemput teman pulangku di musholla. Aku mendapatinya, aku mengajaknya ke kantin. Tak mungkin aku pulang dalam keadaan hujan yang semakin angkuh ini. Seraya berteduh aku juga menunggu laptopku yang sedang mereka pinjam.
            Tak kuduga, setelah lama waktu yang aku tunggu-tunggu ini menghampiriku. Akhirnya, dia mau mengajakku berbicara. Sudah lama aku tak merasakan ini. Walau hanya percakapan kecil yang menyangkut game yang sama-sama aku dan dia sukai. Ini menyenangkan.
            Saat itu juga, fikiranku melayang. Bukankah niatku kemarin adalah untuk berpaling darinya? Aku serius tentang itu. Namun tetap saja hatiku tak ingin serius. Aku semakin bingung, apakah aku akan tetap berpaling dan berbelok arah setelah tahu kalau hatinya sudah sedikit mencair. Ini membingungkan.
            Karena langit yang semakin menggelap walau masih ada beberapa tetesan air yang turun. Aku, dia, dan kedua teman harus pulang. Kami berjalan melawan rintik hujan yang mulai stabil. Saatnya pulang.
            Ponselku bergetar, layarnya berkelipan. Aku enggan memindahkan fokus ku terhadap buku pelajaran ini. Tapi apa daya, mataku tak sengaja melihat untuk sekilas. Ada namanya tertera di atas layar ponselku. Aku tak menyangka, semua ini akan terjadi. Dia kembali, dengan beberapa candaan dan humor yang menarik malam ini dia bisa membuat suasana lebih menarik. Dan seperti malam-malam sebelumnya, yang hanya terisi dengan kesepian. Tentunya, tanpa dirinya.
***
            Pagi yang seakan menjelma menjadi sesuatu yang manis dengan awan sebagai hiasan di langit birunya. Untuk kali ini aku cukup semangat menuntut ilmu. Aku melangkah keluar, mengendarai kendaraanku. Aku sudah sampai pertigaan saksi bisu itu, aku melihatnya dari kejauhan. Sial, aku lupa mengganti gigi kendaraanku ke yang lebih rendah. Aku kesulitan mengejarnya yang semakin menjauh, aku yang salah langkah atau dia yang terlalu cepat dalam melangkah? Pertigaan saksi bisu itu mengkerut, pertigaan itu mengetahui isi hatiku. Pertigaan itu sedang teringat sesuatu di kala dulu. Yang terjadi di pertigaan itu, pertigaan berpisahnya aku dan kamu yang tak akan pernah menjadi kita.
“Kantik yuk, eh ke kelas atas aja yuk”
            Kakiku hendak melangkah ke anak tangga pertama, tak sengaja aku melihat sepatu yang sudah tak asing lagi di penglihatanku. Perlahan tapi pasti, pandanganku terus naik-dan-naik. Lagi-lagi, mataku dan matanya bertemu dan terpaku. Walau hanya untuk beberapa saat. Tak ada senyum sapa di antara kita.
            Oh, ternyata begini. Keadaan kemarin yang memang memaksanya berbicara denganku. Mungkin dia terlalu canggung berbicara denganku dalam keramaian. Terlebih dalam dunia nyata seperti ini, dia terlalu manis dalam benda mati itu. Tetapi terlalu sinis dalam kehidupan nyata.
***
           
Detik berganti menit, menit berubah menjadi jam, jam menjelma menjadi hari. Hari-hari berikutnya keadaan tak semakin membaik, justru sedikit memburuk. Dengan kehadiran sosok yang baru yang membuatku ling-lung tak menentu. Aku masih enggan berpaling, mencoba meyakinkan hatiku pada satu manusia (sok) misterius itu. Walau sikap dinginya semakin hari semakin seperti kutub utara. Walau pengabainya selalu berbanding lurus dengan keingin tahuanku terhadap dirinya. Dan, pura-pura tidak tahunya itu semakin hari semakin membuat suasana semakin membeku. Sekarang, hanya ada gengsi yang saling mengendalikan. Tak ada sapa, tak ada tawa, tak ada tutur kata. Gengsi mengalahkan semuanya.
            Saat bertemu hanya ada lirikan kaku tanpa senyuman. Aku membiarkan temanku menjailinya dengan menginjak sepatunya. Aku memilih menghindar dan mencoba mencari jawaban. Masih tetap menunggu dalam ketidak pastian, dan untuk ketidak pastian. Aku dan kamu, kapan akan menjadi kita? Never.

21:31pm. 15 Mei 2013. ANF25.
Malam gelap jangkrik bernyanyi.
Dia yang masih enggan nampak, memilih bersembunyi di balik kerinduanku dan di balik pengabaianya.
SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar