Insipirasi Liberalisme Richard Rorty

Oleh Rasih Fuadi



Untuk mengetahui darimana pemikiran liberallisme rorty berasal, bagaimana ia menjadi bagian dalam pelopor demokrasi amerika dan proyek utopianya akan liberal, dapat dipahami dengan melihat pada pengalaman hidupnya dan narasi yang ia ceritakan mengenai perubahan “aliran kiri” (leftist) di amerika. Di dalam buku Achieving Our Country, rorty berenti sejenak untuk menjelaskan bagaimana rasanya menjadi “a red diaper anticommunist baby” dan menjadi “teenage cold war liberal.” Orangtuanya adalah seorang pengikut setia partai komunis hingga tahun 1932 (setahun setelah rorty lahir) namun kemudian mereka membelot dan memisahkan diri dari partai tersebut setelah menyadari bahwa partainya dikendalikan oleh Moscow. Tetapi orangtua rorty (serta banyak saudara dan teman-temannya) selalu berpikir bahwa diri mereka adalah kaum intelektual aliran kiri yang berasosiasi dengan beragam kaum penyebab sosialis anti-komunis dan radikal demokratis. Jadi rorty tumbuh dalam atmosfer politik yang menaruh perhatian besar akan keadilan sosial. Banyak orang yang menulis jurnal akan “golongan kiri” saat itu percaya bahwa amerika adalah negara yang hebat, mulia dan maju dimana keadilan akan secepatnya menang. Yang mereka maksud dengan keadilan artinya sama dengan adanya upah yang layak dan pekerjaan yang memadai serta berhentinya rasisme. Rorty muda sudah maju sebagai sorang reformis dan masuk dalam politik liberal secara radikal. Ia tumbuh selagi negara dihadapkan pada depresi besar dimana isu akan upah yang layak, pengurangan jam kerja, kesejahteraan kaum buruh dan orang miskin, penguatan pertahanan negara, peningkatan kompensasi bagi para pengangguran oleh pemerintah dan program kesejahteraan sosial menjadi isu yang sangat penting dan memanas pada saat itu.

Dalam pemikiran demokrasi reformisnya, rorty terinspirasi oleh sejumlah filsuf lain seperti Thomas Jefferson dan John Dewey. Tetapi filsuf yang paling membawa pengaruh baginya adalah John Dewey. Ia menanggapi pemikiran Dewey yang yakin bahwa manusia dapat selalu membuat perselisihan jika dihadapkan pada topik akan kemanusiaan dan keadilan. Rorty mengacu pada john Dewey tentang masyarakat demokratis liberal progressif. Yaitu masyarakat tanpa kelas dan kasta. Karena ini merupakan suatu janji dari hasil demokrasi yang difokuskan oleh Dewey. Rorty dan Dewey punya banyak kesamaan. Mereka sama-sama pesimis dan sinis terhadap janji yang dielu-elukan amerika pada hasil demokrasi. Maka dari itu, "real politik" dikontraskan oleh Rorty dengan "Cultural Politic". Dimana tak mengurusi lagi teorisasi politik, tetapi harus benar-benar mengatasi penderitaan manusia, dan mengurangi kesenjangan antara superkaya dan super miskin.

Menurut rorty, yang dibutuhkan sekarang ini bukanlah menegenai pencarian akan teori-teori yang menurutnya bersifat metafisis melainkan bekerja bersama-sama membangun perubahan sosial. Ia mengajak para kaum intelektual untuk sama-sama membangun dan menyelesaikan masalah-masalah mengenai rasisme, ketidaksetaraan ekonomi dan kemiskinan yang masih melanda negaranya. Inilah sistem dan model liberal yang rorty inginkan, mengembalikan tradisional liberal yang sudah banyak dilupakan. Menurut Rorty, sekarang sudah tidak saatnya lagi membahas teori problematika atas politik. Tapi harus kembali pada tradisi reformis liberal kiri, yaitu para pekerja dan intelektual bergabung bersama untuk perubahan sosial. Tapi ini bukan masalah melihat ke belakang kembali, maka Rorty menyerukan aliansi baru dari para pekerja dan intelektual untuk langsung menangani masalah-masalah seperti rasisme, ketimpangan ekonomi dan lainnya. Dulu terdapat waktu dimana liberal kiri ini menjadi dorongan hati bagi nurani masyarakat untuk bertindak. Hal inilah yang diharapkan Rorty muncul kembali.

Rorty juga berbicara mengenai pergerakan feminis, gay, lesbian dan isu-isu lainnya yang berkaitan dengan tindakan rasis. Pergerakan ternyata ada kiri lama dan kiri baru. Pergerakan dua ini selalu bersitegang. Tetapi kata Rorty, justru kira harus bangga pada sebuah negara, yang nantinya para sejarahwan akan menghormati kedua prestasi gerakan kiri ini. Tapi kini Rorty melihat telah ada yang mengganti kedua kiri tersebut, dan Rorty labeli dengan Cultural Left. Tetapi sayangnya Cultural Left ini membahas sesuatu yang Rorty pandang tidak terlalu berguna. Mereka tak membahas bentuk kerusakan rasisme, seksime dan sebagainya. Cultural Left ini gagas untuk bersekutu dengan para pekerja dan kaum miskin. Mereka hanya bekerja pada tataran legislatif politik, apa yang disebut Rorty sebagai sekedar 'naming the system'. Inilah keadaan postmodern Cultural Left, yang tidak mau mengotori tangannya dengan aksi politik nyata. Ini dianggap salah satu tindakan korupsi bagi Rorty. “Cultural Left” lebih focus pada masalah stigma masyarakat ketimbang uang, ini yang kemudian menjadikan rorty skeptic terhadap golongan tersebut karena menurutnya apa lagi yang menjadi masalah dalam liberal demokratis selain uang. Ia terus memberikan kritik terhadap para kaum “cultural left” serta mengajukan sejumlah gagasan tetapi sayangnya politik rorty tidak diketahui hingga pada tahun 1980an, pandangan politiknya mungkin saja tertutup dan hanya dinikmati sebagai bagian dari ruang private, yang terbuka darinya hanyalah ia sebagai seorang filsuf yang profesional. Ia adalah filsuf yang tertarik pada metafisika namun akhirnya meruntuhkan metafisika dengan sejumlah klaim yang ia ajukan dan juga tertarik pada sejarah hingga beralih pada filsafat analitik.

Tetapi, kesetian politik Rorty ini terdapat suatu ironi. Bahwa hal ini tidak pernah diketahui sampai pada tahun 1980. Pandangan Rorty ini bisa dibilang sebagai pandangan politik private. Distingsi antara politik private dan politik public ini ia tulis dalam karyanya yang berjudul Contingency, Irony, And Solidarity. Sebagai filsuf profesional ia dikenal sangat tertarik pada metafisika dan sejarah filsafat, tapi itu ia konversikan sendiri menjadi filsafat analitik. Ada ironi lain lagi. Rorty dikenal menyukai filsuf-filsuf seperti Nietzsche, Heidegger, Sartre, Derrida, Dan Lyotard. Maka dari itu, dia telah menjadi salah satu pemikir 'postmodern' yang menjadi begitu penting bagi Cultural Left. Hal ini membuat Rorty sendiri merasa khawatir. Karena pemikiran antikomunisnya disalah pahami sebagai dukungan untuk konservatisme dan neokonservatif. Kesalahpahaman membaca ini adalah salah satu stimulus untuk mempertanyakan kesetiaan politik liberalnya.

Rortypun menjawab bahwa, kita semua dapat menjadi ironi dalam perpustakaan kepala kita sendiri. Membaca Nietzsche, Derrida dan sebagainya ialah kenikmatan seperti membaca novel. Tetapi yang selalu Rorty lihat dalam pembacaannya terhadap filsuf siapapun ialah metafilosofinya. Yaitu suatu kelemahan, ilusi, self-deception (kecurangan pada diri sendiri) terhadap self-understanding yang mereka tujukan. Rorty secara khusus selalu mengkritik rational justify dalam filsuf yang selalu mempertahankan posisinya dan memunculkan fondasi. Jadi, dalam buku Contingency, Irony, And Solidarity, Rorty menyebut liberal metaphysicians. Liberal metaphysician ialah mereka yang berfikir dapat membenarkan klaim basic mereka tentang keadilan, hak dan liberal. Yang salah dengan liberal metaphysician bukanlah liberalismenya, tetapi metaphilosophynya. Mereka selalu yakin dapat membenarkan klaimnya dengan menarik argumen dan alasan fondasional yang cukup kuat. Sebagai kontranya, Rorty mengajukan sosok yang disebut ironis liberal. Ini adalah orang yang mengetahui bahwa 'final vocabulary' dari suatu pemikiran tidak bisa dijustifikasi oleh rasio beserta argumen fondasionalnya. Liberal ironis selalu bahwa pasti ada alternatif, dan tak pernah memikirkan final vocabularinya.

Tetapi bukanlah hal itu sama saja dengan relativisme? Rorty sudah menggeluti kritiknya ini selama dua puluh tahun, dan anggapan bahwa ia seorang relativis hanyalah muncul dari mereka yang masih memegang solid theoretical rational foundation. Dan orang-orang yang seperti itu masih memegang hal-hal seperti objektifitas, kebenaran absolut, realisme, dan sebagainya. Menurut Rorty, sebaiknya hal-hal seperti itu ditaruh saja dulu. Filsafat Rorty ini menuju apa yang disebut antagonisme terhadap platonisme maupun kantianisme. Kategori kantian selalu berisi tentang distingsi-distingsi yang menjadi alat penglihatan pada dunia. Rorty selalu mengajak untuk menaruh dulu segala distingsi tersebut, dan membawa postphilosophical culture untuk dapat merubah haluan fokus pada social hopes, dari pada apa yang benar-benar ada 'disana'. Rorty menyebut dirinya antagonisme terhadap platonis.



Dengan pemikiran seperti itu, Rorty setidaknya kagum pada pemikiran Habermas dan Rawl. Karena mereka berdua, dengan cara yang berbeda, berusaha membantu masalah mengenai hak, hukum, keadilan, konstitusi dan sebagainya. Dia memuji Rawls, karena selama tiga tahun terakhir, Rawls dinilai kurang menjadi kantian.



Rorty tetap mengkritik Habermas, karena tetap berbau kantian dan klaim norma universal. Habermas, walaupun pemikirannya jatuh pada tataran praktis, tapi toh tetap apa yang dituju hal yang begitu transenden. Tetapi, meskipun Rorty sendiri begitu, ia tidak pernah memerinci apa yang ia maksud, kecuali dengan frase yang sudah umum.



Rorty beranggapan bahwa kita tidak perlu bekerja lebih pada theoretical tentang dasar liberalisme, hukum, atapun politik. Ini semua adalah jenih pekerjaan yang selalu menyita perhatian para ahli. Kita harus fokus pada bagaimana mengoptimalkan institusi yang telah ada dalam masyarakat liberal. Tetapi jikalau ada pertanyaan-pertanyaan penting seperti 'apakah yang dianggap sebagai tindak penghinaan/kejahatan/kecurangan? Apa batas-batasnya? Apa yang menjadi tolok ukurnya?'. Itu semua bukan pertanyaan yang tidak penting, tapi itu pertanyaan yang menggoda dan membuat kita berfikir untuk menyuguhkan jawaban filosofis. Ini adalah salah satu contoh teorisasi. Dan hal itu tidak membantu bahkan malah mengganggu. Rorty jelas-jelas skeptis pada teori yang dianggap membenarkan dan dianggap dapat membantu dilema moral yang nyata.



Untuk para liberal ironist, tak ada jawaban atas 'mengapa tidak kejam?'. Tidak ada teori linear yang mem-backup kepercayaan bahwa kekejaman itu mengerikan. Begitu juga pada pertanyaan 'kapan kau harus memperjuangkan ketidakadilan disaat kau sedang mengabdikan diri pada diri sendiri atau hal-hal swasta lain? Atau, it is right to deliver n innocents over to be tortured to save the lives of m x n other innocents? So, what are the correct value of n and m?' Siapapun yang berfikir bahwa ada teori yang membumi seperti algoritma yang dianggap bisa menjawab permasalahan moral ini, sebenarnya telah mendeterminasi eksistensi manusia dan memunculkan hirarki pertanggungjawaban.



Novel yang kuat seperti charles dickens's dapat lebih efektif membuat orang berbuat sesuatu pada ketidakadilan sosial daripada teori yang ada dalam akademik maupun filsafat. Ada waktu sekali yang membuat metaphysician liberalism itu penting, yaitu disaat awal hal itu muncul, dan masyarakat liberal menjadi eksis. Tetapi itu telah lama berlalu. Yang penting sekarang ialah motivasi dan implementasi untuk membentuk koalisi politis dalam reformasi institusi, hukum dan politik. Rorty tetap simpatic terhadap pandangan hegel dan Dewey, yaitu prinsip moral universal tetap berguna sepanjang mereka merupakan hasil dari perkembangan historis dari partikular masyarakat yang sedang dalam institusi tanpa prinsip. Rorty juga kagum pada pemikiran michael walzer. Bahwa kita tidak seharusnya berfikir tentang penambahan pada adat istiadat maupun institusi masyarakat partikular, tetapi berfikir bagaimana perintah kesetian moral tersebut. Hal tersebut sangat cocok dengan keyakinan Rorty. Bahwasannya masyarakat liberal tergantung pada rasa solidaritas dan simpati sesama mahluk. Jikalau rasa itu muncul, maka mereka yang ada dalam institusi seperti dipermalukan. Hal inilah yang biasanya dilakukan oleh para sastrawan dan jurnalis, mampu membangkitkan rasa ketidakadilan. Rasa ketidakadilan itu biasanya hanya bisa muncul 'at home'/'entosentris'. Dan itu merupakan fenomena yang dapat secara bertahap diperjanjang. Progres ini dimulai dari rasa ketidakadilan yang dapat mempermalukan institusi, kemudian diperpanjang dan diperdalam. Seperti menumbuhkan rasa bangga menjadi warga amerika, kemudian sadar bahwa tidak sesuai dengan harapan sosial dalam mencapai utopia liberal global.


SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar