Oleh: Rasikh Fuadi*
Kata siapa kita bisa memilih. Mana ada yang bisa memilih untuk dilahirkan dimana, kapan, bagaimana keadaannya. Tidak ada yang bisa, dan harus kita terima. Keterlemparan namanya. Beruntunglah kita, yang sudah dilempar tapi mendapatkan tempat yang lumayan. Keluarga baik, kaya, mapan, dan penuh bahagia. Keterlemparan yang sempurna. Tapi siapapun pasti akan mengumpat jika sebaliknya. Jika dilempar di ruang yang tak ada apa-apanya, keluarga yang miskin dan tak bisa bahagia. Sudah dilempar, serasa tambah dibanting keras ke tanah. Tapi umpatan itu hanya muncul jika kita telah beranjak dewasa, mengerti tentang apa-apa, dan mulai tak menerima keterlemparan. Tapi sayang, perempuan ini masih kecil, tak tahu apa-apa dan masih menerima semuanya.
Dia dilempar sebatang kara. Dulunya bapaknya ialah orang sakti, ditakuti banyak orang dan disegani, tapi akhirnya terperosot dalam jurang penjudi, dan sekarang entah kemana ia pergi. Dan ibunya seorang pelacur yang sudah mati terkena penyakit kelamin mematikan. Tapi ia merasa tak sebatang kara, karena masih ada boneka barbie kecil, dan seekor kucing hitam liar yang menemaninya.
Mitos daerah setempat mengatakan bahwa dosa dan bala bencana itu bisa menular begitu saja. Tanpa ada yang tahu kapan dan bagaimana, tiba-tiba penyakit dan kematian kan menyebar kemana-mana. Pendosa adalah sumber petaka di sini. Dan sayangnya, perempuan cilik itu dianggap mewarisi dosa-dosa orang tuanya. Maka lengkaplah dia sebagai sebatang kara. Siapapun yang mendekatinya, pasti akan terkena bala bencana keesokan harinya. Tak kaget lagi bila toni, anak kecil seusianya yang pernah memberinya mainan, masuk rumah sakit keeseokannya. Dan juga mbah sutopo, yang iseng memberikan gorengan dagangannya pada perempuan itu, keesokannya grobak gorengan mbah sutopo hancur tertabrak motor. Bahkan kucing hitam yang menemaninyapun jadi penyakitan, seperti kudisan disekujur tubunya. Tak usah benda hidup, bahkan boneka barbienya yang benda mati itu, seperti terkena penyakit. Badannya yang putih dan kaku, serta rambutnya yang acak-acakan mengerikan. Seperti seseorang yang sakaratul maut hendak mati setiap saat.
Sebagai ketua RT, pak Jono bertindak sebisanya. Membangun bangunan kecil di samping rumahnya untuk si kecil itu. Tak mau dia masuk dalam rumahnya, nanti malah merambat bala bencana. Ruang kecil itu mungkin hanya berukuran 1x1,5. Tiap pagi siang sore dikirimi makanan. Bak kucing memang hidupnya. Dan memang makanan itupun dibaginya dengan kucing hitam liar yang menemaninya.
Suatu saat desa itu terserang banyak sekali bala bencana. Dimulai dari banyaknya harta warga yang hilang, sampai orang yang sakit-sakitan. Dalam seminggu, pasti bertambah satu orang yang jatuh sakit. Penduduk menjadi resah, dan mau tak mau, semua penduduk merasa rajin sembahyang dan melakukan ritual sesembahan merasakan tak ada yang bersalah, kecuali perempuan kecil itu. Desas-desus mulai menyebar. Kabarnya bulan purnama minggu depan, perempuan itulah yang harus jadi sesembahan. Konflik berterbangan dikalangan para tokoh masyarakat disana. Ada yang tak setuju dengan mempersembahkan nyawa, ada yang tetap kekeuh demikian. Tibalah semua pada kata-kata sang ketua upacara sesembahan, mbah Wangsan.
Mbah wangsan berkata, “tidak ada yang boleh membunuh dalam upacara sesembahan ini. Karena tolak bala adalah menolak bala bencana, bukan membunuh bala bencana. Perempuan kecil itu tak bersalah apa-apa, hanya keyakinan kita yang merasa bahwa ia mewarisi dosa orang tuanya. “
“Lalu bagaimana caranya agar bala bencana ini berhenti? Sudah jelas bahwa perempuan kecil itu adalah sumbernya.”
“Sumbernya bukan perempuan kecil itu, tapi orang tuanya. Tak ada yang bisa kita salahkan pada perempuan kecil itu.”
“Jika memang demikian mbah, maka kita tidak bisa berbuat apa-apa. Segala wabah dan bencana ini akan terus meluas. Tidak bisa kita diamkan. Persembahkan saja nyawa perempuan kecil itu!”
“Kalau kalian memaksa tuk membunuh nyawa kecil tak berdosa itu, maka kita semua yang berdosa, dan kita semua yang menjadi sumber bala bencana.”
“Sudah jelas bukan kita sumbernya, tapi perempuan kecil itu! Sesembahan kita untuk upacara ialah perempuan kecil itu! Tidak bisa tidak!”
“Telah kuperingatkan kalian untuk tidak melakukannya!”
“Besok kita kurung dia. Persiapkan api yang lebih besar!”
Bulan purnama tiba. Berbagai sesembahan makanan dan rupa-rupa kembang sudah dipersiapkan di lapangan. Bara api sudah berkobar-kobar ditengahnya. Orang-orang sudah khusyu mengitarinya. Para penari dan pemusik mendedangkan musik mistis nan syahdu. Tinggal satu sesembahan agar bala bencana ini berakhir.
Perempuan itu digendong, ditaruh di kandang ayam, dan dijunjung bersama-sama. Berbondong-bondong orang ikut mengiringi persembahan terakhir itu. Pengharapan yang amat sangat akan ketentraman kembali hadir di desa ini, tercurahkan dalam tiap mata orang-orang di desa itu. Obor-obornya menerangi jalan, tarian dan musiknya mengubah malam menjadi begitu mistis. Ditaruhnya kandang ayam berisi persembahan terakhir itu di depan bara api. Upacara mengharusnya sesembahan untuk mengitari bara tujuh kali kearah utara dan tujuh kali kearah selatan.
Begitu dibuka kandang tersebut, berdirilah dengan tegak kaki perempuan kecil itu. Dengan menggenggam boneka barbienya yang telah siap untuk mati. Tak ada yang mengerti, kenapa perempuan kecil itu mengerti bahwa ia harus mengitari bara api itu. Tak ada yang menyuruhnya, perempuan kecil itu mengitarinya. Langkahnya kecil-kecil namun pasti. Mata orang-orang kian garang, melihat persembahan terakhir itu sebentar lagi akan selesai mengitarinya. Desanya akan tentram, saudara dan teman-teman yang sakit akan segera sembuh, rezeki yang menepis akan lancar kembali. Udara sejuk akan menghembus desa itu.
Mbah Wangsan hanya melihat dari pinggir. Sambil berkomat-kamit menatapi satu per satu penduduk desa yang bodoh, yang penuh dosa, dan akan terkena bala bencana yang tak kian habisnya. Ia yakin, begitu perempuan kecil itu selesai mengitari dan melompat ke bara api, hela nafas lega penduduk akan berubah menjadi nafas penyakit. Senyum-senyum mereka hanya akan ada di malam ini saja. Keesokan harinya, mbah wangsan yakin, desa ini akan diterpa banyak kematian. Orang-orang yang sakit akan mendadak meninggal, dan rezeki yang menipis akan menjadi kemiskinan dan kelaparan. Desa inilah yang akan menjadi sumber bala bencana.
---
Putaran terakhir perempuan ini telah terinjak. Si kecil itu terdiam menatap lurus bara api tersebut. Orang-orang kian berdetak jantungnya, karena akan melihat dosa yang dilahap api neraka. Akan melihat setan sumber dosa ini menjerit kesakitan, terbakar habis dan menguap sudah. Tabuhan musik menjadi meninggi, dan angin berhembus menggarangkan api. Orang-orang mulai merapatkan diri, memfokuskan pandangan pada sang persembahan terakhir. Perempuan kecil itu mengambil langkah kecil ke bara api, suatu jarak yang terlalu tepat untuk melompat dengan kaki mungilnya. Diambilnya nafas begitu dalam, dada mungilnya terlihat mengembang, mempersiapkan langkah terakhir untuknya. Dan akhirnya, dilemparlah boneka barbienya, yang diiringi kucing hitam liar yang ikut melompat masuk ke bara api.
*Mahasiswa Jurusan Ilmu Filsafat di Universitas Indonesia
0 komentar :
Posting Komentar