Keungan SPPQT sebagai Ormas sekaligus Lembaga Berbasis Program
SPPQT adalah organisasi massa, namun jika dilihat lebih detail, polanya memiliki kemiripan dengan LSM, yaitu memiliki lembaga donor untuk program – program yang dijalankan. Fenomena unik terakhir adalah para pegiatnya tidak gajian 6 bulan tapi tetap bertahan. Sebagai ormas ini bukan hal yang aneh. Namun sebagai lembaga berbasis program, menjadi muncul beberapa pertanyaan.
1. Bagaimana bisa sampai keuangan program tersendat ?
Cermin dari RAPKS 2013 SPPQT menunjukkan sumber pembiayaan utama program berasal dari donor dalam hal ini utamnya Agritera Belanda. Dan sampai saat ini kita belum mendapatkan kontak baru dengan Agriterra karena masih terhambat dengan audit keuangan yang belum dilakukan . Donor memeliki syarat mutlak untuk semua mitra termasuk untuk SPPQT yaitu laporan audit keuangan.
2. Secara umum bagaimana sistem keuangan SPPQT, baik pemasukan, pengeluaran maupun pertanggungjawabannya.
Dari Rencana Anggaran dan Program Kerja Serikat (RAPKS), struktur sumber pemdapatan organisasi berasal dari internal organisasi yaitu iuran anggota, kontribusi lembaga ekonomi, hasil usaha dari aset organisasi, sumbangan – sumbangan internal dan usaha lain organisasi. Selanjutnya juga dari eksternal organisasi dalam hal ini adalah sumbangan dari pihak lain dyaitu donor dan dari APBN/D. Secara struktur sumber pendapatan mencerminkan ketergantungan SPPQT pada donor sangat tinggi, dengan komposisi sumber pendapatan internal 15 – 20% sisanya dipenuhi dari eksternal yaitu donor.
Sedangkan untuk pengeluaran tentunya prosentase terbanyak adalah untuk pembiayaan program dengan kegiatan – kegiatan utama pendidikan, pelatihan atau training, pengorganisasian, koordinasi dan konsolidasi, program pertanian dan ekonomi juga kampanye, advokasi dan politik.
Dalam hal pertanggung jawaban, secara internal diatur sebagai berikut, sebulan sekali setiap tanggal 12 adalah koordinasi bidang keuangan ditingkat DPS, laporan keuangan 4 bulan sekali dalam MOS (Musyawarah Organisasi Serikat), laporan tahunan dalam Rakerpi (Rapat Kerja Pimpinan) yang dihadiri oleh anggota serikat dan empat tahun sekali dalam kongres atau RUAS (Rapat Umum Anggota Serikat). Sedangkan secara eksternal, dalam hal ini misalnya kepada donor disesuaikan dengan ketentuan masing-masing donor. Umumnya laporan keuangan donor yaitu satu tahun sekali dan mensyaratkan audit keuangan oleh oleh akuntan publik. Ada beberapa donor yang selain laporan tahunan juga laporan periodik 4 bulanan.
3. Terkait dengan keterlambatan audit, yaitu di tahun 2013 baru melakukan audit 2011, apa yang menyebabkan ini terjadi ?. Apakah ini berpengaruh pada situasi SPPQT ?
Betul, SPPQT satu minggu yang lalu baru menyelesaikan laporan audit keuangan tahun 2011. Tentu ini sangat terlambat. Secara umum organisasi kita menghadapi sistem keuangan yang masih lemah. Hal ini menyangkut sistem perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan juga pelaporan. Juga secara khusus menyangkut sistem pembukuan dan soft ware keuangan yang digunakan.
Hal yang lain adalah masalah kedisiplinan dalam hal pembuatan laporan dan juga dokumen bukti – bukti yang memenuhi ketentuan. Kedisiplinan semua komponan bukan saja bidang keuangan sangat penting untuk mewujudkan laporan audit keuangan tepat waktu. Melalui coaching dari Pak Raymond Toruan, salah satu anggota DPO SPPQT, kelemahan sistem keuangan SPPOT dan juga tentanga akuntabilitas akan menjadi prioritas pembenahan kedepan.
Sudah barang tentu keterlambatan audit ini secara fundamental mempengaruhi kinerja SPPQT. Lebih-lebih karena cerminan RAPKS kita masing mengantungkan sumber pembiayaan dari donor. Sementara donor mensyaratkan laporan audit keuangan untuk membangun kontrak baru.
Satu minggu yang lalu kita telah menyelesaikan audit keuangan 2011 dan sudah kita kirimkan ke donor terkait. Saat ini kita juga sedang menyiapkan audit keuangan 2012. Semoga paling lambat akhir Bulan Juli kita sudah menyelesaikan laporan audit keuangan 2012
4. Soal iuran anggota, dimanakah nilai pentingnya hal itu ?. Bagaimana mekanisme yang akan dijalankan ?
Situasi krisis keuangan kita saat ini, karena belum adanya sumber pendapatan dari donor, pada sisi yang lain mengingatkan kita dengan fundamental bahwa keuangan organisasi kita belum menunjukkan kemandirian, seperti yang kita cita-citakan. Idealnya sumber pembiayaan program dan organisasi bertumpu pada kekuatan dari dalam yaitu iuran anggota, kontribusi dan keuntungan usaha ekonomi organisasi dan usaha – usaha internal organisasi yang lian. Hal ini belum menunjukkan hasil yang berarti.
Iuran anggota belum tergarap. Didalam AD SPPQT diatur iuran anggota perserikatan ditetapkan oleh RUAS. Dan pada RUAS ke IV kita tidak membahas secara khusus tentang iuran anggota. Diharapkan hal terkait dengan iuran anggota bisa diatur secara jelas dalam ART yang sedang disiapkan. Dengan aturan ini akan menjadi landasan untuk mengerakkan iuran anggota pada tahun ini.
Begitu pula tentang kontribusi atau keuntungan dari lembaga ekonomi, kita berharap tahun ini penataan lembaga ekonomi semakin terlihat hasilnya, lebih – lebih PT Qaryah Thayyibah yang diharapkan menjadi unit bisnis organisasi yang mampu memberikan kontribusi yang layak untuk gerakan SPPQT
Owh.. ternyata SPPQT itu LSM ya???
BalasHapus