KEMATIAN


 Sumber gb. : http://www.cartage.org.
Bagian I

            Sore dengan sisa hujan yang satu-dua, sekawanan burung gereja mematok-matok gabah di pelataran villa. Sementara tirai kamar masih menyibak, sebab sinar matahari meskipun tidak panas masih tempias. Sore, masih cukup panjang untuk segera menutup hari -pukul 16.00. Seorang pemuda berperawakan kurus memojok dengan kedua tangan terbujur memegangi ujung-ujung jendela, melemparkan pandang ke luar.

Di luar Villa, terbentang pohon-pohon pinus berjejer melingkari perut gunung Merbabu, sementara awan dan mega terseret-seret pelan menjauh menambah kedamaian bagi yang memandang sore itu. Lelaki kecil terus memaku, pandangannya yang lurus seperti menembusi guratan-guratan mega, pohon pinus dan suasana sore yang damai itu. Dari jendela berkaca transaparan, nampak wajah lelaki itu semakin mengeras sampai kemudian ia menundukkan kepalanya, hingga sejurus setelah itu ia melangkahkan kakinya kembali ke meja kerjanya untuk menuliskan segala apa yang membuncah di dadanya.

Frans, nama lelaki kecil kurus itu. Diantara rak-rak dan buku-buku yang bertumpuk, seluruh pikiran dan tubuhnya tenggelam. Bacaan telah menariknya dalam cerita-cerita sastra dan novel tentang Doctor Zhivago, Anne Frank, Mahabharata atau cerpen-cerpen stensilan.
            “kriing… kriing..kriing…kring…” dering suara Handphone dari ponsel Frans.
           “kenapa?” kata Frans.
            “aku ingin menemuimu, sebelum kepergianku” pinta suara perempuan dari ujung Handphone.
            “tuut,tuut!” Frans menutup ponselnya terburu-buru.


***

Malam badai seperti menyusupi dinding-dinding dan kaca kamar, Frans. Angin dingin mengarahkan dahan pelan seperti pohon yang dapat menari. Di kamarnya, Frans terus saja berguling-guling tanpa bisa menutupkan kedua belah matanya. Merasa kesusahan, kemudian Frans bangun menjauh dari busa tempat tidur, ia mengambil gelas, beberapa sendok gula, kopi, kemudian mengalirkan air panas dari dispenser.

Dengan menggenggam Secangkir kopi, terduduk Frans di depan meja kerjanya, pikirannya kembali teringat pada Cinthya, pada kisah-kisah masa lalunya yang mau tidak mau akan harus berakhir dalam beberapa hari ini. Secara tak sengaja, dalam kerisauannya, ia mengambil amplop berisi surat dari kekasihnya yang datang tadi pagi. Frans menyimpan rapi surat itu di loker meja kerjanya. Sambil meneteskan air mata, ia membaca kata-kata kekasihnya itu yang tertulis:

Salatiga, menjelang pagi

Kekasihku,

Kematian akan datang kepada setiap siapa saja yang berjiwa seperti juga kehidupan memberikan kesempatannya tanpa kita minta. Tapi yakinlah kekasihku, kesejatian cinta kita telah kupastikan akan pergi bersama jiwaku. Jadi, esok atau kapanpun kita terpisah tidak akan menjadi masalah karena cawan cinta dari anggur asmara yang telah kita peras telah meluruh tereguk di kedalaman jiwaku.

Frans kekasihku,

Tahukah kau bahwa perpisahan selama ini telah kurindukan seperti halnya pagi dengan matahari yang menyinari dahan-dahan padi para petani. Justru dengan perpisahan kita akan melarung dari keterbatasan duniawi untuk melampaui yang tak terbatas. Cinta kita yang tidak akan pernah habis walau kematian telah membuat tubuhku diam….

Frans,

Kau telah membaca apa yang kutuliskan dan kuminta kau tersenyum untuk mengenangku, yaitu seseorang yang akan mempertanggungjawabkan cinta kita di altar Dewi Keabadian. Demi waktu, setelah ini dan kau mendengar kabar bahwa kematian telah menjemputku, itu artinya aku pergi lebih awal sebelum kau menyusulku. Demi cinta kita Frans, berjanjilah kau mengenangkanku sehingga tetap mengenakan jubah cintaku kemanapun-dimanapun.

Cinthya.

***

Bersambung ke Bagian II
SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar