Raymond Toruan: SPPQT Masih (Harus) Terus Berbenah
SALATIGA - Salah satu anggota Dewan Pertimbangan Organisasi Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (DPO SPPQT) Raymond Toruan mengaku SPPQT sejauh ini telah mencapai beberapa prestasi. Namun demikian dalam lawatannya selama tiga hari ke Salatiga ada beberapa hal yang mesti dilakukan serikat dalam perbaikan ke depannya.
Disela-sela acara kegiatannya caping.org berkesempatan mengobrol santai di kantor sekretariat SPPQT, Rabu (12/6/2013). Berikut wawancara dengan mantan Pemred The Jakarta Post terkait kondisi SPPQT saat ini.
Sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Organisasi, sejauh mana Pak Raymond melihat kondisi SPPQT selama ini?
Secara umum kalau dilihat selama 14 tahun terakhir ini sampai batas tertentu serikat (SPPQT) sudah punya brand terlepas brand itu baik atau tidak itu soal lain. Dalam sebuah perusahaan perputaran kalau perputaran tenaga kerjanya tinggi ini menjadi tanda yang tidak baik. Sebagai organisasi gerakan petani yang ada di belasan kabupaten dengan puluhan paguyuban tidak semuanya berhasil. Namun dari segi perputaran tenaga gerja tidak tinggi. Ada sedikit pertambahan dan ada juga yang keluar, namun sebagian besar sejak 14 tahun lalu sampai sekarang saya masih melihat orang-rang yang sama. Orang datang ke SPPQT ini bukan untuk menambah portofolio ataupun pengalaman kerja melainkan karena memiliki roh serikat.
Pegiat di serikat sebagian besar bukan pekerja ful profesional, melainkan sukarelawan. Output yang sudah dihasilkan juga banyak. Ada MDM, LSD, dan juga bio digester serta Sekolah Alternatif yang tidak secara langsung berkaitan dengan serikat namun punya sejarah dengan serikat. Yang mendirikan juga orang-orang serikat. Dan itu semua menambah brand dan diakui banyak pihak.
Selama 14 tahun ini, apa kendala yang dihadapi SPPQT saat ini?
Problemnya adalah organisasi ini tumbuh lebih cepat dari kemampuannya mengembangkan dirinya. Organisasi ini tumbuh menjadi besar namun kebutuhan dari yang besar ini sebetulnya belum cukup. Saat berdiri pertama kali tahun 1999 hanya 13 Paguyuban dan sekarang sudah lebih dari 60 paguyuban. Satu sisi menunjukkan keberhasilan tapi dari sisi lain capacity building-nya keteteran. Kapasitas yang dibangun internal tidak secepat apa yang dibangun organisasi ini. Sebagai contoh satu pegiat dulu mengawal dua paguyuban, sekarang mengawal sepuluh paguyuban petani. Ketersediaan sumberdaya manusia dan finansial juga tidak cukup.
Kalau dilihat dari segi kuangan organisasi, gabaimana korelasinya terhadap program kerja?
Kalau dilihat dari jumlah kegiatan sejak 2010 sampai sekarang cenderung menurun yang tercermin dari pendanaan yang juga menurun. Dalam enam bulan ini kita sedang memperbaiki keuangan kita. Ada sejumlah kewajiban-kewajiban pada pihak eksternal yang belum terpenuhi. Akhir Juli tahun ini harapannya bisa segera tuntas dan serikat kembali bisa menjalankan programnya.
Siapa yang harus bertanggung jawab dan ikut menyelesaikan kewajiban ini?
Kita semuanya harus sadar bahwa persoalan ini adalah persoalan organisasi, bukan hanya persoalan keuangan. Persoalan ini bukan soal cashflow maupun keuangan namun sudah menyangkut eksistensi dan keberadaan organisasi. Jadi semua elemen organisasi harus ikut serta menyelesaikan persoalan ini.
Apa kekurangan organisasi sehingga akuntabilitas belum terpebuhi?
Titik lemah mengapa akuntabilitas organisasi ini belum maksimal adalah Sistem yang dipakai saat ini sudah kadaluarsa serta alat-alat yang diperlukan untuk mengamankan akuntabilitas kurang lengkap dan lemah.
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menyelesaikan audit ekternal ini terlebih dahulu. Ini tidak hanya bagian keuangan saja melainkan semua elemen organisasi harus ikut menyelesaikannya.
Setelah masalah pertama selesai selanjutnya kita bikin sistem akuntabilitas yang baru. Sistem ini meliputi keuangan dan elemen yang lain. Karena seberapapun sistem keuangan sudah akuntabel kalau elemen yang lain tidak akuntabel maka akuntabilitas organisasi tidak akan jalan.
Salah satu kinerja yang akuntabel adalah menuliskan dan membuat laporan setiap kegiatan apapun yang merepresentasikan organisasi. Apapun kegiatan dan transaksi keuangan yang terjadi harusnya dituliskan. Jangan menyuruh orangan yang tidak mengerjakan kegiatan untuk membuat laporan. Terlalu sering orang menganggap remeh putung. padahal kalau sudah terjadi kebakaran akan sangat susah memadamkannya. Begitupun pula soal menuliskan laporan kegiatan yang sering ditunda akan menumpuk dan akan sulit menyelesaikannya.
Apakah asas ataupun aturan yang ada saat ini belum cukup untuk menerapkan akuntabilitas?
Sebenarnya organisasi sudah memiliki asas yang bilamana semua elemen organisasi taat asaa kejadian ini tidak akan serumit ini. SOP yang ada saat ini lemah. Voucer untuk setiap transaksi kegiatan sebagai bagian dari dokumentasi kegiatan juga tidak tersedia. Sementara budaya kita tidak membiasakan akuntabilitas. Kita cenderung melanggar melanggar asas atau aturan yang sudah ada, dan ini sudah membudaya. sebagai contoh saat kita berkendara naik sepeda motor kita cenderung menerjang lampu merah saat tengah malam karena sepi dan tidak ada polisi yang mengawasi maupun pengendara dari arah berlawananan. Dan hal seperti ini adalah budaya yang salah.
Bagian akuntabilitas yang lain adalah tata cara dalam rapat. Rapat itu bukan sekedar kumpul-kumpul dan ngobrol. Rapat itu ada pimpinan, waktu, notulensi, dan wewenangnya. Jadi agenda pertama sebelum memulai rapat adalah membacakan notulensi rapat stingkat sebelumnya secara detail. Kalau tidak ada keputusan yang dicatat dan ditetapkan bagaimana keuangan bisa membukukan?
Yang perlu digarisbawahi dalam pembacaan notulen rapat terdahulu sebelum memulai rapat adalah:
1. Benarkah catatan/notulensi yang ada tersebut?
2. adakah kebutusan yang diambil dalam rapat tersebut?
3. kalau ada keputusan sudahkan SK-nya dibuat?
Pengarsipan notulensi, catatan-catatan hasil keputusan berada di sekretaris. Sejauh ini serikat tidak mengabaikan hal itu. Sebagai contoh ada Surat Kuasa yang sudah saya tanda tangani sejak Oktober tahun 2012 sampai saat ini tidak dilaksanakan.
Sebagai sebuah organisasi gerakan SPPQT tentunya harus mandiri. Bagaimana untuk mewujudkan itu?
SPPQT sebagai organisasi gerakan boleh memulai dari donor. Tapi sebagai organisasi yang sehat harus bisa dari dirinya sendiri. Kalalu itu mau dijadikan asas, maka asanya adalah iuran anggota yang teratur setiap bulan, berapapun itu. Misal setiap anggota iuran seribu setiap bulan, padahal anggota mencapai 16 ribu lebih, sudah berapa yang terkumpul
Yang kedua, SPPQT adalah organisasi gerakan. Ada bentuk model ekonomi yang sesuai untuk organisasi gerakan yaitu koperasi. Ini adalah bentuk yang paling pas yang tidak sekedar mencari keuntungan semata. Pedoman koperasi adalah satu orang satu suara, bukan satu rupiah satu suara. Tak perlu kita menunggu uang dari Bank Dunia, tapi kita bisa iuran sendiri.
Kita bisa contoh MDM (Mentari dana Mandiri) yang awal mulanya hanya 20 orang iuran sepuluh ribu. Coba kita lihat sekarang udah berapa miliar uangnya? sudah berapa lantai gedungnya? baru berapa tahun....?
Kalau ini dikelola dengan baik, ada uang apa tidak dari donor, oragansasi ini tetap bisa jalan. Sejauh ini menurut pengamatan saya belum ada LSM yang mandiri. Menurutku SPPQT dengan berbagai sumber daya dan anggota yang dimiliki bisa dan mampu untuk menjadi organisasi gerakan yang mandiri (MJB/KR).
Sayang, belum baca komentar pak Reymond tentang Caping :)
BalasHapus