![]() |
| Formasi sempurna, siap meraih hadiah |
"Ayo semangat, bendera diatas itu hadiahnya sudah mencapai Satu Juta Rupiah, bagi yang pertama kali bisa menyentuhnya," demikian promotor lomba Pucang, di Dusun Tegalsari, Kalibening, Salatiga, Jateng, Minggu Siang, 17/8. Promotor itu menyemangati para peserta yang tengah berebut menaiki pohon bambu sebagai pohon pinang yang telah dilumuri oli berwarna hijau tua.
Pohon pucang itu diikat dengan tali, yang diberi bendera kecil-kecil. Dengan memanfaatkan lapangan di dusun tersebut lomba pucang terselenggara meriah sekali. Para warga menonton dari pinggir lapangan. Sebagian duduk di kebun dan pinggir lapangan, menyaksikan para peserta berupaya memanjat pohon licin tersebut untuk memperebutkan hadiah.
![]() |
| Menunggu giliran |
Hadiah yang diperebutkan di Krandon ini juga beragam, dan dibungkus amplop. Hadiah ditaruh di bawah. Amplop yang diraih nanti dicocokkan nomornya dengan nomor hadiah di bawah. Lomba di Plantungan ini dilakukan di malam hari, sehingga tidak panas.
![]() |
| Berdesakan sampai pinggir lapangan |
Sejarah Panjat Pinang
![]() |
| Abadikan moment |
Bisa dibayangkan kondisi pada masa penjajahan, sementara warga negara Indonesia bersusah payah dengan berlumuran keringat, para Penjajah Belanda dan keluarganya tertawa terbahak bahak melihat penderitaan Bangsa Indonesia. Dan mungkin saat ini, ketika perayaan 17 Agustus, mereka masih tertawa terbahak-bahak, menyaksikan bahwa budaya yang mereka buat dengan tujuan melecehkan Bangsa Indonesia, ternyata justru dilestarikan.
![]() |
| usaha keras dan kerjasama |
Namun seperti apapun kontroversi yang berkembang, lomba Pucang tetap lestari hingga kini. Menjadi tontonan yang menarik dan menghibur./jb





0 komentar :
Posting Komentar