Lomba Pucang yang Selalu Menarik

Formasi sempurna, siap meraih hadiah
Salatiga, Caping. Lomba panjat pinang atau kadang disebut lomba puncang sangat digemari masyarakat. Pesertanya banyak, penontonnya juga banyak. Hadiahnya yang diperebutkan ditaruh di pucuk pucang atau pohon pinang, peserta harus memanjat pohon yang dilumuri oli untuk bisa mengambilnya.

"Ayo semangat, bendera diatas itu hadiahnya sudah mencapai Satu Juta Rupiah, bagi yang pertama kali bisa menyentuhnya," demikian promotor lomba Pucang, di Dusun Tegalsari, Kalibening, Salatiga, Jateng, Minggu Siang, 17/8. Promotor itu menyemangati para peserta yang tengah berebut menaiki pohon bambu sebagai pohon pinang yang telah dilumuri oli berwarna hijau tua.

Pohon pucang itu diikat dengan tali, yang diberi bendera kecil-kecil. Dengan memanfaatkan lapangan di dusun tersebut lomba pucang terselenggara meriah sekali. Para warga menonton dari pinggir lapangan. Sebagian duduk di kebun dan pinggir lapangan, menyaksikan para peserta berupaya memanjat pohon licin tersebut untuk memperebutkan hadiah.

Menunggu giliran
Sejatinya lomba pucang itu sudah ada sejak lama dan hampir seluruh pelosok negeri Indonesia menyelenggarakan perlombaan semacam ini. Seperti juga yang terjadi di Plantungan, Krandon Lor, Kab Semarang, Sabtu malam, 16/8. Kali bukan menggunakan pinang atau bambu, tetapi pohon pisang panjang yang digantung sekitar  satu meter di atas tanah. Jadi, peserta memanjat pohon tersebut dengan terayun-ayun.

Hadiah yang diperebutkan di Krandon ini juga beragam, dan dibungkus amplop. Hadiah ditaruh di bawah. Amplop yang diraih nanti dicocokkan nomornya dengan nomor hadiah di bawah. Lomba di Plantungan ini dilakukan di malam hari, sehingga tidak panas.

Berdesakan sampai pinggir lapangan






Sejarah Panjat Pinang
Abadikan moment
di Wikipedia disebutkan bahwa Panjat pinang berasal dari zaman penjajahan Belanda dulu. Lomba panjat pinang diadakan oleh orang Belanda jika sedang mengadakan acara besar seperti hajatan, pernikahan, dan lain-lain.yang mengikuti lomba ini adalah orang-orang pribumi. Hadiah yang diperebutkan biasanya bahan makanan seperti keju, gula, serta pakaian seperti kemeja, maklum karena dikalangan pribumi barang-barang seperti ini termasuk mewah. Sementara orang pribumi bersusah payah untuk memperebutkan hadiah, para orang-orang Belanda menonton sambil tertawa. Tata cara permainan ini belum berubah sejak dulu.



Bisa dibayangkan kondisi pada masa penjajahan, sementara warga negara Indonesia bersusah payah dengan berlumuran keringat, para Penjajah Belanda dan keluarganya tertawa terbahak bahak melihat penderitaan Bangsa Indonesia. Dan mungkin saat ini, ketika perayaan 17 Agustus, mereka masih tertawa terbahak-bahak, menyaksikan bahwa budaya yang mereka buat dengan tujuan melecehkan Bangsa Indonesia, ternyata justru dilestarikan.

usaha keras dan kerjasama
Saat ini bentuk permainan ini masih bertahan hingga sekarang, ada pihak yang tidak mempermasalahkan sejarah permainan ini, tapi ada juga yang tidak setuju dengan budaya ini. Jika sejarah panjat pinang begitu menyakitkan mengapa harus dilestarikan?

Namun seperti apapun kontroversi yang berkembang, lomba Pucang tetap lestari  hingga kini. Menjadi tontonan yang menarik dan menghibur./jb
SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar