(Ketanggi, 25/8) Banyak peserta karnaval dengan kreasinya, dari alat perang, klaras (daun pisang kering) yang di jadikan baju, orang-orangan, kapal, tugu, dan lain-lain. Tapi, dibalik itu, terlihat beberapa barang-barang resmi sebuah even semisal drum, baju karnaval sewaan, dll. Ya, memang tidak salah menyewa dalam setiap karnaval, begitu juga di karnaval Ketanggi ini.
Demi terlihat kreatif dan memeriahkan karaval di desa Ketanggi, sudah bukan barang tabu untuk menyewa peralatan dan perlengkapan demikian. Memang mustahil membuat baju tentara tanpa sewa, begitu juga baju-baju lain semisal kebaya dan sejenisnya. Dan memang setiap yang menyewa akan terlihat lebih berwarna dan penuh seni karena barag sewaan itu dibuat oleh profesional.
Seperti tahun-tahu sebelumnya, tahun ini,karnaval di Ketanggi juga tak lepas dari barang-barang sewaan itu. Seolah hal wajar, sewa menyewa di karnaval ini semakin terasa dan degan jelas mudah terlihat dan di bedakan dengan kreasi sendiri. Penilaian awal yang didasarkan pada kreatifitas dan seni juga kekompakan seolah menjadi sangat rancu. Betapa tidak? Bagaimana seorang penilai menilai jika nyatanya kretatifitas didalam karnaval ini lebih didominasi kreatifitas profesional yang tidak secara langsung ikut andil disana. Saryono anggota Koramil yang juga penilai di karnaval itu mengungkapkan keprihatinnya tentang hal itu "Yah kita di suruh menilai kreatifitas mereka, tapi mereka nyewa, mau nilai apa?" tuturnya.
| kreasi seperti itu tergeser mewahnya garapan profesional |
Lebih parah lagi, tahun ini karnaval desa Ketanggi tidak hanya bergelut dengan masalah sewa menyewa peralatan danperlengkapan, tapi mulai merambah pada sewa menyewa orang. Sebuah kewajaran jika satu atau dua teman ikut dalam karnaval itu. Tapi tidak, seolah dengan sengaja menyewa orang-orang yang sudah mahir memainkan musik-musik perkusi atau alat musik barang bekas untuk menambah citra hebat di RT masing-masing. Sebuah tujuan awal yang sudah melenceng dalam prakteknya. Jika tujuan awalnya karnaval ini untuk warga desa Ketanggi, kini mulai jadi ekpansi dari warga desa lain.
Dalam karnaval tadi, setidaknya terlihat beberapa RT yang menyewa personel profesional dari desa lain. Parahnya, dikabarkan mereka yang banyak menyewa malah memenangi karnaval itu atau setidaknya mendapat nomor meski hanya harapan.
Hal ini bukan tidak mungkin bisa menjadi tonggak awal kontaminasi atau ekpansi pihak lain di karnaval berikutnya jika masih diadakan. Bukan hanya itu, persaingan tidak sehat juga bisa semakin menjamur dengan berjalannya karnaval-karnaval berikutnya jika hal semacam ini masih terus berlangsung. Hal ini bisa berimbas pada merosotnya kreasi warga ini kaitannya dengan karnaval. Tak hanya itu rasa remeh pada karnaval berikutnya juga mungkin bisa terjadi dan bisa menjadikan warga malas dengan karnaval lanjutannya.
edy.
0 komentar :
Posting Komentar