Editorial Juni
Krisis ekonomi dan politik berlangsung di dunia. Kesulitan hidup membuat massa bergolak seperti Yunani, Turki, Brazil, dan Mesir. Sebetulnya pada hari-hari ini kita menghadapi hal yang sama yakni dicabutnya subsidi BBM yang dari 4.500 IDR menjadi 6.500 IDR/liter. Setelah harga BBM resmi naik, ombak kesulitan hidup kini menerjang rakyat yang sudah papa. Inflasi akibat naiknya harga BBM memacu kenaikan harga bahan pokok lain. Ke depan kalau kesulitan ini berlanjut tentu saja mimpi merayakan Ramadhan dengan segala kebutuhan yang mencukupi akan semakin jauh dari harapan masyarakat kecil.
Fokus pada krisis dan kesulitan di internal SPPQT menjadi tema Caping bulan Juni. Sedikit banyak, kedua krisis ini tentu saja identik dan bisa jadi memiliki hubungan. Sayang saja, sebagaimana dapat kita baca, analisa krisis di SPPQT kental dugaan disebabkan oleh masalah internal saja, Sorotan masalah unprofesionalitas sejumlah pengurus, tersendatnya audit, tidak berjalannya iuran, disinyalir menjadi faktor-faktor yang menyebabkan ‘pelemahan’ kerja-kerja lembaga.
Untuk memperoleh data pada Caping edisi Juni tersebut, sejumlah wawancara dengan pengurus SPPQT telah dilakukan oleh beberapa reporter diantaranya dengan R. Toruan, Vita, dan beberapa pengurus lain.
Bagi internal LSDPQT belajar pada apa yang tengah terjadi di SPPQT ini tentu saja menjadi bahan refleksi dan evaluasi bersama. Apalagi, sebagaimana kita ketahui berjalannya LSDPQT sampai dengan hari ini tidaklah jauh berbeda dengan yang dialami SPPQT, yakni adanya dugaan masih lemahnya pengelolaan di internal lembaga.
Situasi krisis di LSD sarujuk dengan hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh pengurus harian ke beberapa LSD yang menemukan fakta tengah terjadinya demoralisasi sejumlah pengurus LSD, pengurangan laba di Warnet LSD, ‘mandeg’nya jamaa’ah produksi, kesulitan pengkaderan, dan sebagainya.
Akhirnya, setiap kelemahan dan kegagalan yang terjadi tidak lantas membuat kita terpuruk, jatuh dan tenggelam. Sejumlah masalah di internal SPPQT maupun LSDPQT telah memberikan kita advice dan sinyal bagi bangkitnya kembali lembaga ini di masa yang akan datang.
Sungguh, jatuh dan bangun organisasi menjadi hal yang biasa, bahkan membaw petunjuk bagi kemajuan di masa depan. Dan, selain kelemahan internal lembaga, kesulitan pengelola juga memerlukan analisa yang lebih makro dengan situasi struktural. Kenapa? Karena dengan diagnosa penyakit yang salah akan menyebabkan pengobatan yang salah pula.
Semisal, barangkali kesulitan di LSDPQT yang gagal berkembang dalam berjama’ah produksi, usaha warnet, atau lainnya tidak hanya menyangkut urusan mental pemuda LSD yang lemah, Melainkan karena adanya kompetisi yang membuatnya kalah dalam bersaing karena keterbatasan modal, alat, akses, dll. (AB)
0 komentar :
Posting Komentar