Kondisi SPPQT saat ini tidak seperti biasanya. Ada beberapa hal yang terjadi sehingga perjalanan SPPQT agak melambat sedikit. Ada beberapa hal yang terjadi sehingga kondisi seperti ini menimpa penting untuk diketahui sebagai pembelajaran. Utamanya adalah pembelajaran untuk LSDP-QT dan LSD agar ke depan situasi seperti ini tidak menimpa LSDP-QT dan LSD.
“Hambatan utama tidak berjalannya program secara optimal karena sumber pembiayaan organisasi dari donor belum turun. Seperti kita tahu cerminan RAPKS 2013 menempatkan sumber pembiayaan utama organisasi bersumber dari donor. Hal ini bertambah sulit ketika sumber pembiayaan yang bersumber dari internal organisasi yaitu iuran anggota dan lembaga ekonomi serikat juga belum memberikan kontribusi.” Kata Ruth Murtiasih Subodro kepada Caping.
Lebih lanjut Ruth menjelaskan bahwa keterlambatan dukungan dari donor disebabkan karena SPPQT belum memenuhi kewajiban untuk mengirimkan Laporan Audit Keuangan. Sudah ada perkembangan pada 11 Juni 2013 kemarin SPPQT telah mengirimkan laporan audit keungan 2011. Dan sekarang sedang menyiapkan audit keuangan 2012.
Berkaitan dengan kondisi ini Maksum, Salah satu staff SPPQT melihat bahwa kondisi sppqt saat ini lihat ada semacam perubahan yang agak serius begitu. “Sejak awal saya sudah mengatakan bahwa ada ketidak beresan atas pimpinan. Jadi sampai persoalan seperti ini berarti ada ketidak beresan pimpinan.” Katanya. Maksum kemudian membandingkan kondisi saat ini dengan kondisi SPPQT tahun 2003. “Beda seperti dulu ya, seperti jaman Pak Din di Kalibening, pernah seperti ini tetapi tidak separah ini, ya mungkin ini menjadi terapi bagi kita semua. Ketika kita ada dana, program berjalan begitu cepat dan baik. Tapi sebaliknya ketika ada kondisi semacam ini, program ya ada sih yang berjalan tetapi tidak secepat ketika ada dana.
Maksum sebenarnya tetap mengacu pada sifat SPPQT sebagai ormas. “Bukannya saya mengacu pada materi, karena kita Qaryah Thayyibah dalam memberdayakan masyarakat itu tidak harus dipakai materi yang berlimpah, sedikit kalau bisa berjalan itu lebih baik, daripada melimpah tapi tidak berjalan, ini saya rasa seperti memulai tonggak awal lagi, bagaimana kita beraktifitas, kita membaca situasi yang kita hadapi, kalau kita bisa membaca situasi saat ini dengan bijaksana saya kira kita penting.
Namun masalah kepemimpinan tetap ditekankan oleh Maksum. “Tapi kembali lagi seorang pemimpin memang dibutuhkan pemimpin yang istilahnya bisa ngesuhi, itu mungkin kondisi saat ini.” Katanya.
Hilmiy, Salah satu anggota DPP SPPQT berpendapat lain lagi. Ia memandang penting untuk mencari jawaban mengapa iuran anggota sebagai kekuatan utama SPPQT sebagai ormas tidak berjalan. “Bahwa seharusnya SPPQT itu kan ormas kan,..maka ketika kontrak dengan funding macet terus program jadi macet itu agak ironis menurut saya. Idealnya sumber pendanaan sppqt ya dari anggota kalau mengaku sebagai ormas. Tapi kalau dana dari funding macet terus kegiatan jadi macet itu berarti ada yang tidak beres di SPPQT, dan itu sejak dahulu ketidak beresan itu.
Berkaitan dengan hal itu kemudian Hilmiy merasa perlu untuk melihat kembali kejelasan SPPQT sebagai organisasi berbasis anggota. “Entah anggotanya ada atau tidak tetapi kan iuran anggota itu kan sudah diatur dalam anggaran dasar organisasi, andaikan anggota 16 ribu setiap orang sebulan iuran 500 rupiah, tentu sppqt ada duit. Kalau sampai tidak ada duit berarti kan iuran tidakjalan, apakah karena tidak ada anggotanya atau anggotanya tidak bayar iuran. Itu ketidak beresannya.” Katanya bersemangat.
-
Blogger Comment
-
Facebook Comment
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar :
Posting Komentar