oleh: ******#
entah apa yang harus ku lakukan
ketika hari-hariku terisi dengan tanya dan hampa
perihal notifikasi di fb kala itu
dari dirimu
saya sempat berpikir mungkin tengah sensitif aja pagi ini
sehingga notifikasi biasa pun dianggap beda
padahal itu hanya sebuah notifikasi,
sama seperti notifikasi-notifikasi darimu sebelumnya
juga kali ini…..
kutanya pada lamunanku kemudian, yang tengah beranjak untuk sarapan pagi
namun, jangankan jawaban yang kudapat…
justru umpatan serapah atas kebodohan ku
yang pagi-pagi buta telah memuntahkan kembali
nasehatnya yang kemarin sore dia sodorkan
tentang dirimu
terik mentari melemparku kembali pada kabut malam
yang gemar mentranslate notifikasi menjadi mimpi
menggelar beragam cerita dan kidung venus semenjak senja tiba
atau kadang suka usil mengaburkan notifikasi menjadi rasa mendalam tuk bertemu
nalarku tahu bahwa kabut malam itu telah mengerjaiku,…
tapi rupanya anganku tak mau peduli sedikitpun
kalau itu tentang dirimu
kabut malam tahu hal itu dan semakin membuatnya pede mengerjaiku
aku di lemparnya di hadapanmu yang berkostum putih abu-abu tengah bercermin hendak berangkat sekolah
kau rapikan jilbabmu, kenakan gelang birumu sambil tak lupa kau senyum pada cermin itu
serasa dirimu memperlihatkan padaku bahwa senyummu tak kalah indah dari mentari di ufuk sana
sekejap tanganku hendak meraih ponsel tuk mengabadikan moment itu
namun dirimu tersipu lantaran beberapa bekas jerawat di wajahmu tertinggal di ponselku
kuganti gerakanku sekedar merangkul pundakmu yang beranjak meninggalkan cermin
sambil melangkah di sampingmu ku toleh cermin,.. : cantik, damai, dan keanggunan dirimu masih tersisa disana
compang camping diriku dikerjain kabut malam ketika fajar membangunkanku
hahahahaha,…. tawaku terlepas sekedar menutup kekalahanku pada kabut malam yang sukses mengerjaiku
padahal kusembunyikan beberapa tetes air mata tanya dan hampa agar tidak dikira sebagai embun pagi
dengan refleks aku mengelap keypad netbook yang basah oleh airmataku; aku tertidur ketika melihat photo profilmu
rupanya semalaman kabut malam menghibernasi netbook dan mengalihkan memori ke alam mimpi tuk mengerjaiku
oh my god……., nalar, angan serta lamunanku telah melebur menjadi satu sekarang,….
diriku yang sendiri ditinggal nalar, angan dan lamunanku, berbisik pelan di penghujung doa subuhku:
“**,…hingga kini belum sekalipun telingaku mendengar dirimu menyebut apalagi memanggil namaku
namun indah raut wajahmu memanggil manggilku tak pernah kenal waktu”
-
Blogger Comment
-
Facebook Comment
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar :
Posting Komentar