Kerabat Caping, sengaja pada edisi Maret cetakan ke-3 ini, redaksi mengangkat tema seputar, 'Ekonomi Pedesaan'. Ekonomi Pedesaan ini dimengerti sebagai ekonomi yang berdasar pada moral yang sepintas tidak efisien dan tidak masuk akal; tetapi pada dirinya mengandung ciri-ciri sistem ekonomi yang menjamin suatu keadilan sosial (social justice) bagi warganya, yakni sedikit menghalangi kesenjangan antara yang kaya dan miskin. Moral ekonomi ini dapat dilihat dari adanya etika rejeki atau kemiskinan yang dibagi-bagi dan paling tidak menjamin tak ada warga desa yang akan mati kelaparan.
Ekonomi desa jauh-jauh hari ditandai oleh wajah yang terbelakang, sektor pertanian, perikanan, dan peternakan yang seringkali dikontraskan dengan ekonomi perkotaan yang hingar-bingar karena mekanisasi dalam produksi -industrialisasi. Stigma keterbelakangan ini sejatinya kenaifan saja, manakala tenyata sebagian terbesar manusia hidup di desa dan mengandalkan bidang kerja pertanian, perikanan, dan peternakan tersebut sebagai cara pemenuhan kebutuhan.
Menarik pula dalam perbincangan ekonomi pedesaan ini kita melihat bagaimana daya upaya eksistensi ekonomi pemuda di dalam konteks luas ekonomi pedesaan. Benarkah, pernyataan “pemuda dalam terang ekonomi desa tengah berjibaku lahir batin dengan dilema-dilema pilihan antara; apakah akan tetap tinggal di desa dengan resiko hidup pas-pasan tak punya uang dan terkungkung dalam lingkungan pergaulan yang monoton, atau akan membetot dan pergi ke luar desa, berharap dapat melakukan mobilitas sosial dan berpenghasilan tinggi pada suatu ketika,” itu relevan dengan kehidupan pemuda di desa hari ini?
Sorotan lain adalah arus kapitalisasi yang merangsek ke desa, sebagai keharusan sejarah yang merubah pola-pola hubungan lama feodal yang kini dianggap kontraproduktif. Gejala-gejala ini dapat kita lihat dari berlangsungnya diversifikasi kerja yang mulai heterogen dalam perekonomian desa semisal banyaknya angkatan kerja desa yang entah karena terpaksa atau tidak, menjadi armada pekerja di kota-kota besar, dengan konsekuensi ditinggalkannya lapangan usaha pertanian moyangnya. Namun begitu, polarisasi dan kesenjangan ekonomi yang banyak dikuatirkan terkait efek kapitalisasi di pedesaan yang dikuatirkan akan membelah masyarakat menjadi kaya dan miskin tidak secara vulgar terjadi. Di banyak tempat justru terjadi inovasi dan kreativitas berbagai industri kecil/ kreatif yang biasanya diinisiasi oleh kaum muda desa setempat.
Terakhir, berbagai liputan seputar kegiatan ekonomi di desa dan berbagai liputan kegiatan pemuda dalam kontribusinya pada tema kali ini akan menjadi suguhan ‘utama’ bulletin kita. Selain itu, Pangudi Luhur yang memberitakan tentang kesulitan hidup petani cabai di daerahnya, berita dari penyusunan Rapat Kerja LSDPQT di Sempulur awal bulan lalu, sastra oleh Irawan, kunjungan Unaer dari Timor Leste ke LSDPQT Harapan Makmur dan beberapa artikel menarik lain akan mengisi halaman demi halaman terbitan kali ini. Selamat membaca.
Redaksi
0 komentar :
Posting Komentar