![]() |
| Bayi Korban Perang. Foto: Reuter yang dimuat di BBC Indonesia |
Pemerintah presiden Bashar al-Assad belum juga berhasil meredam gerakan pemberontak yang merongrong pemerintahannya dan menindas rakyatnya. Rakyat Suriah terjebak pada peperangan tiada henti dan mengenaskan. Peperangan di Suriah antara pemerintah dan pemberontak telah menjalar ke negara tetangga dan menjadi isu international, karena ada ISIS di sana. ISIS semakin membesar karena negara tetangga Suriah, Irak, juga lemah, sehingga sebagian wilayah Irak ada di bawah kontrol ISIS.
Suriah saat ini dipimpin oleh Bashar Al-assad sebagai presiden dan Muhammad Naji al-Otari sebagai perdana menteri. Assad adalah Presiden Republik Arab Suriah, Sekretaris Wilayah Partai Baath, dan anak mantan Presiden Hafizh al-Assad. Bashar menggantikan ayahnya sebagai Presiden Suriah segera setelah kematiannya pada 10 Juni 2000. Adapun Irak dipimpin oleh Fuad Maksum sebagai presiden dan Nouri Al-Maliki sebagari perdana menteri.
ISIS dianggap lebih berbahaya ketimbang Al-Qaidah karena mempunyai ribuan personel pasukan perang, yang siap mendeklarasikan perang terhadap mereka yang dianggap bertentangan atau menentang berdirinya negara Islam. Mereka menjadi kekuatan politik baru yang siap melancarkan serangan yang jauh lebih brutal daripada Al-Qaidah. Gerakan revolusi yang mulanya mempunyai misi mulia untuk menggulingkan rezim otoriter ini berubah menjadi tragedi. ISIS menjadi sebuah kekuatan baru yang siap melancarkan perlawanan sengit terhadap rezim yang berkuasa yang dianggap tidak mampu mengemban misi terbentuknya negara Islam. Ironisnya, mereka mengabsahkan kekerasan untuk menindas kaum minoritas dan menyerang rezim yang tidak sejalan dengan paradigma negara Islam. ISIS menjadi kekuatan politik riil dengan ideologi yang jelas dan wilayah yang diduduki dengan cara-cara kekerasan.
Kini wilayah yang ada di bawah kontrol ISISmenjadi wilayah yang berdarah. Sejumlah korban terus berjatuhan sementara pemerintah Irak dan Suriah tidak berdaya menumpas ISIS ini yang gerakannya masif, radikal dan brutal. Dalam ancamannya terhadap Pemerintah Barak Obama beberapa waktu lalu, kelompok ini bahkan memenggal kepada wartawan amerika yang telah di tawan selama 2 tahun. Hal ini dilakukan sebagai respon mereka atas perintah Obama untuk menyerang ISIS.
Yang terjadi kemudian rakyat Suriah sungguh menderita. Mereka mendapat tekanan dari pemerintah Bashar Al-Assad, dan juga harus berhadapan dengan pemberontah ISIS. Rakyat akhirnya menjadi pengungsi dan itu sangat rentan serangan tembakan dan pembunuhan Menurut laporan yang diturunkan BBC Indonesia disebutkan bahwa korban akibat pemberontakan ISIS di Suriah saja sudah mencapai 200.000 orang. Kekerasan ini juga sudah merambah ke negara tetangga, Irak.
Wajar jika kemudian rakyat Suriah putus asa dan merasa dunia telah mengabaikannya. Kekerasan sektarian yang ditimbulkan kelompok pemberontak dan juga serangan pasukan pemerintah terhadap pemberontak, telah menempatkan masyarakat menjadi ajang pertempuran perebutan kekuasaan./jb
Sumber : Wikipedia, BBC Indonesia

0 komentar :
Posting Komentar