Pemilu 2014: Menyelamatkan Basis Hijau



Ancaman penurunan perolehan suara partai berhaluan Islam tradisional semakin menunjukkan kebenarannya. Sedikit mengilas balik perolehan kursi dan suara memperlihatkan gejala performa regresif partai berlatar belakang Islam tradisional; PKB yang masuk dalam posisi 3 besar atau 12,61% pada Pemilu 1999, pada 2004 sedikit menurun dengan prosentase 10,57% (tetap masuk 3 besar), dan terakhir posisi PKB jatuh tepatnya pada Pemilu 2009 lalu dengan hasil 4,94 % artinya masuk pada jajaran 7. Partai hijau lain yakni PPP mencatatkan perolehan yang menurun namun lebih stabil jika dibandingkan PKB. PPP yang pada 1999 berada pada urutan nomor 4 dengan perolehan 10,71%, pada Pemilu 2004 tetap posisi keempat dengan prosentase suara 8,15%, terakhir untuk Pemilu 2009 PPP memperoleh 5,32 % hanya turun pada posisi 6.
Gambaran gegap gempita pra-Pemilu tidak selamanya dilakukan oleh partai politik. Alih-alih melakukan konsolidasi dan penataan, beberapa partai hijau sampai hari ini masih menjadi tawanan persoalan internal. Tulisan ini sengaja dibuat untuk kepentingan memetakan posisi, prospek dan peluang dari partai-partai berbasis massa agama tradisional, selain juga karena kajian atas partai hijau relatif jarang disinggung oleh pengamat dan analis politik di tanah air. Untuk memetakan konstelasi politik partai hijau pada tataran riil, akan dijelaskan dari dinamika yang terjadi pada tataran internal NU sebagai payung besar organisasi. Untuk kepentingan analisa politik yang riil ini dilakukanlah peletakan lebih tinggi kenyataan politik di atas landas mitologis ketokohan dan idealisme Ahlu Sunnah wal Jama’ah.
Harus diakui, adanya basis kultural ke-NU-an yang kuat adalah salah satu faktor partai hijau ini sedikit tertolong di masa lalu. NU terlepas dari sikapnya untuk berpolitik atau tidak, peranannya dalam menghidupi parpol berbasis hijau tidak dapat dinafikan pengaruhnya. Apa jadinya partai politik hijau seperti PKNU, PKB dan PPP tanpa peranan simpatisan dari tokoh-tokoh dan dukungan organisasi dari struktural NU?
Sketsa Penguatan Partai
Perpaduan figur dan soliditas tim menentukan perolehan kursi dan suara suatu partai politik. Kalau kolaborasi figur dan mesin sudah dimiliki, asupan ideologis dan strategi pemenangan secara mudah dapat dijalankan dengan mempertimbangkan konteks pemilih. Namun nampaknya, kedua prasyarat itulah yang saat ini masih belum juga terbangun pada kebanyakan partai Islam, terkecuali PKS dan PAN.
Di tengah kompetitifnya Pemilu 2014, Islam Politik tradisional masih berkutat pada masalah rumah tangga yang harus diselesaikan secara cepat –terjadi konflik antarpengurus dan teralienasinya mesin pemenangan. Buru-buru menjalankan strategi pemenangan, untuk menata internal partai saja, sepertinya tenaga partai bakal terkuras. Walhasil, keterombang-ambingan ini memicu skeptisme performa partai hijau dalam mendulang kursi dan suara pada Pemilu 2014.
Harus kita akui, sebagai partai besar, soliditas partai hijau tidaklah begitu baik. Di beberapa Pilkada kekalahan calon yang diusung oleh partai hijau berulangkali terjadi. Kekompakan partai hijau seringkali dipertanyakan; alih-alih fokus mendapatkan suara berbagai permasalahan internal yang kontraproduktif justru terus tereproduksi.



Untuk memperjelas permasalahan ini, identifikasi atas sejumlah permasalahan berikut langkah strategis yang harus ditempuh oleh pengurus partai yang perlu dijalankan diantaranya, yakni;
Pertama, partai hijau sudah harus melakukan penguatan basis. Tradisionalitas yang masing berkembang melalui kombinasi paternalisme dunia kyai-santri dan disosialisasikan dalam budaya ritual rakyat sehari-hari secara tidak sadar terinternalisasi pada massa basis. Dari sini dapat kita ambil contoh kebijakan yang dapat diambli semisal dengan merawat elite rohaniawan di desa-desa, sebab merekalah selama ini diakui atau tidak telah menjadi mesin pemenangan dengan militansi yang tinggi dan efektif bagi eksistensi partai ‘hijau’ ini.
Kedua, re-empowering organisasi sampai bawah. Tersedianya  basis struktural organisasi seperti dalam Fatayat, Ansor dan Banser harus dirawat, berikut elite-elite setempat. Pada organisasi tersebut kantong-kantong suara simpatisan selama ini berasal, bahkan kalau dimaksimalkan tersedia target massa riil yang dapat dijangkau.  Inilah alasan mengapa mengambil mesin Ormas NU menjadi strategis.
Ketiga, penyelesaian konflik internal. Adanya kesamaan ideologis sebagai titik berangkat dalam politik seharusnya sudah cukup untuk mengakhiri konflik rumah tangga partai selama ini. Selanjutnya, mengantisipasi terjadinya pembobolan suara dari kompetitor melalui pemecahbelahan harus segera dihentikan, agar partai ini semakin solid ke dalam.
Sejumlah terpaan kompetisi antarelite yang terus menerus ada dan berlangsung menyebabkan partai ‘hijau’ semakin memburuk di mata pemilih dan tim pemenangan yang berasal dari tokoh-tokoh agama tradisional. Citra internal partai yang tidak akur dan mengalami konflik yang berlarut-larut dalam kajian marketing politik akan menyusahkan pemasaran partai/ calon kepada pemilih. Apalagi, sebagai partai ideologis dengan latarbelakang keagamaan, berlangsungnya sejumlah konflik internal mengesankan tidak adanya kesalehan antarelit untuk solid menyelamatkan ummat dalam politik.  
Keempat, mulai menjaga jarak terhadap kekuasaan. Basis partai hijau adalah kalangan Nahdliyin yang kebanyakan berasal dari kalangan menengah ke bawah. Kebijakan partai yang masuk dalam koalisi kebangsaan dan over pro-status quo bisa berakibat kekecewaan pemilih, sebab beberapa kebijakan pemerintah seringkali jatuh pada bias pasar dan seringkali berbenturan dengan aspirasi kalangan miskin dimana banyak berasal simpatisan partai.
Penutup
Akhirnya menyelamatkan basis hijau tidak saja dilakukan dengan menunggu keajaiban politik. Mengharapkan kuatnya basis hijau hanya dapat berlangsung dengan melakukan upaya penguatan basis secara serius pada tingkat struktural dengan perawatan mesin pemenangan, melakukan konsolidasi ke dalam dan mulai selektif dalam mendukung kebijakan pemerintah. Dari situ dapat kita harapkan bangkitnya kembali Islam tradisional dalam politik atu revivalisme tipologi Geertz yang membagi dalam Priyayi, Abangan, dan Santri sebagai tiga tipologi kekuatan besar secara politik, sosial dan budaya. Atau membayangkan kembali bangkitnya partai berbasis hijau  seperti pada Pemilu tahun 1955 dimana Partai NU bertengger dalam peringkat ketiga setelah PNI, Masyumi dan mengungguli PKI. (AB).
SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar