Resensi: Gadis Pantai - Perjuangan Perempuan Memperoleh Hak Akibat Penindasan

Oleh: Laksita Wikan Nastiti

Novel Gadis Pantai merupakan salah satu novel karya Pramoedya Ananta Toer yang diciptakan saat ia menjadi tahanan di Pulau Buru. Novel ini juga sempat dilarang peredarannya pada rezim Orde Baru. kisah dalam novel ini kental akan kritik sosial yang tajam. Berlatar belakang sejarah kolonial Belanda, novel inI mengangkat tema penindasan akibat kesenjangan kelas sosial yang terjadi masa itu.

Tema tersebut dipaparkan secara menarik melalui konflik-konflik yang terjadi dalam cerita. Dikisahkan seorang anak berusia empat belas tahun yang disebut dengan Gadis Pantai dipinang paksa oleh Bendoro yang tinggal di kota. Gadis Pantai tidak pernah mengenal kota selama hidupnya, yang ia tahu hanya kehidupan di Kampung Nelayan tempat ia tinggal. Gadis Pantai masih anak anak, ia tidak mengerti bahwa ia akan dikawini oleh seorang Bendoro, ia hanya tahu bahwa ia dikawinkan dengan sebilah keris. Mengawini rakyat jelata, Bendoro tidak perlu datang meminta gadis itu pada orang tuanya, Bendoro hanya perlu mnegirimkan sebilah keris untuk mewakili dirinya.

Setelah menikah dengan Bendoro, Gadis Pantai meempertanyakan banyak hal, membandingkan kehidupan orang Kampung Nelayan dan orang kota. Ternyata Gadis Pantai anak yang cerdas. Dalam waktu yang singkat, ia bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan para priyayi. Pembantu yang diutus Bendoro untuk membantu segala sesuatu kebutuhan Gadis Pantai lama-lama tidak mampu lagi meladeni pertanyaan-pertanyaan Gadis Pantai. Menurutnya, orang kota yang mengklaim dirinya sebagai priyayi justru hidupnya penuh dengan kesulitan, ini tidak boleh itu dilarang. Mereka yang banyak belajar tentang agama namun selalu menyianyiakan oranglain yang strata sosialnya dianggap lebih rendah. Menurut Gadis Pantai justru merekalah yang tidak mengerti tentang kemanusiaan. Hak-hak kaum yang lebih rendah strata sosialnya dirampas. Gadis Patai tidak benar-benar menjadi istri Bendoro. Ternyata, Bendoro hanya menjadikannya seorang selir yang jika sudah memiliki seorang anak, ia akan dilemparkan kembali menjadi gadis kampung.

Konflik-konflik yang dibangun pengarang dalam cerita sangat tajam mengkritik adanya kesenjangan strata sosial kala itu. Orang dengan kelas sosial tinggi akan menindas orang yang kelas sosialnya lebih rendah. Fenomena ini sesuai dengan latar waktu yang dipilih pengarang yaitu pada saat pemerintahan kolonial Belanda.

Bahasa yang digunakan dalam novel ini lugas sehingga memudahkan pembaca memahami makna cerita. Banyak kata dalam Bahasa Jawa yag diselipkan dalam percakapan antar tokohnya. Hal ini disengaja oleh pengarang dengan tujuan untuk memperkuat latar tempat cerita yaitu di pesisir utara Pulau Jawa di daerah Rembang. Selain itu, kosa kata Bahasa Jawa yang digunakan memang tidak dapat diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia karena merupakan sebutan sebutan gelar. Kosa kata tersebut sama sekali tidak mengganggu pembaca dalam memahami makna cerita justru menguatkan pembaca menangkap suasana “jawa” dalam cerita.

Pada dasarnya, Pramoedya selalu menciptakan novel yang mengangkat kisah nyata dan pengalaman sejarah sosial budaya masyarakat Indonesia, sehingga novelnya tergolong dalam fiksi sejarah. Novel Gadis Pantai ini sebenarnya diinspirasi oleh kehidupan nenek Pramoedya dari pihak ibu. Sebuah penelitian seorang mahasiswa program doktor di Australia menyebutkan bahwa novel ini sebenarnya merupakan rangkaian trilogi dari dua novel lainnya namun dua novel lainnya tidak pernah ditemukan setelah peristiwa pembredelan pada masa Orde Baru.

Novel ini menarik untuk dibaca dan dikaji. Amanat dalam cerita mampu menarik pembaca untuk berpikir mengenai penindasan hak serta bagaimana perjuangan yang ditempuh untuk mendapatkan kemabali hak-hak tersebut. Latar waktu dan tempat mampu mengingatkan pembaca akan sejarah Indonesia yang pernah dijajah Belanda. Suasana kolonialisme begitu kental di dalam cerita. Bagi kaum muda, novel ini penting untuk menambah khasanah ilmu pengetahuannya tentang sejarah melalui kejadian-kejadian sosial budaya yang diangkat dalam cerita.

Laksita Wikan Nastiti, Mahasiswa UIN Jogjakarta angkatan 2011. Tulisan ini sebagaimana sudah ditulis di Kompasiana, 15 Januari 2013
SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar